We have 44 guests and no members online
Di Balik Hiruk Pikuk Kota Pariwisata, Anak Muda Bali Bicara Udara Sehat dan Kawasan Tanpa Rokok.
We have 44 guests and no members online
Di Balik Hiruk Pikuk Kota Pariwisata, Anak Muda Bali Bicara Udara Sehat dan Kawasan Tanpa Rokok.
“Bu, itu apa?” tanya seorang anak kecil kepada sang ibu. “Itu namanya petir,” jawab ibu. “Kenapa bisa ada petir, Bu? Dan kenapa suaranya keras sekali?” Pertanyaan sambungan itu membuat kening ibunya berkerut, bingung harus menjawab apa.
Kejadian ini merupakan contoh sederhana untuk membedakan mana yang disebut dengan mengetahui dan mana yang disebut dengan memahami. Selama ini manusia sering belajar mengenai nama, definisi, atau hafalan belaka lainnya. Tapi ketika ditanya mengenai hal yang lebih dalam, mereka akan bingung harus menjawab apa. Setidaknya begitulah yang kini banyak terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia.
Sistem pendidikan yang membuat orang merasa sudah mengetahui segala hal, padahal mereka hanya mengetahui permukaannya saja. “Paham semua?” merupakan pertanyaan guru setiap akhir kelas. Semua akan serentak menjawab, “Paham, Bu.” Bahkan tanpa mengetahui definisi paham yang sebenarnya. Generasi muda di Indonesia seharusnya diajarkan bagaimana mengolah sesuatu seperti lebah. Dalam konteks ini, mengolah informasi.
Para lebah mencari sari bunga dari banyak tanaman, kemudian mengumpulkannya, lalu mengolah sari bunga itu menjadi sesuatu yang sangat berharga: madu. Konsep memahami sesuatu adalah titik ketika seseorang dapat memiliki kemampuan untuk mengolah informasi tersebut menggunakan logika dan perasaannya, mengaplikasikannya, serta menjelaskan hal tersebut dengan kalimat mereka sendiri.
Tahu adalah permulaan. Semakin lama dipelajari, maka individu tersebut akan menyadari seberapa dalam lautan pengetahuan yang ada. Oleh karena itu istilah ‘ilmu padi’ itu ada. Semakin orang mempelajari sesuatu, maka mereka akan semakin merasa kurang. Mereka akan
merasa belum mengetahui segalanya. Lalu mereka akan belajar sangat giat untuk dapat menguasai sebuah ilmu.
Terakhir, saya dahulu merupakan seseorang yang termakan sistem pendidikan di Indonesia. Saya merupakan orang yang berdiri di tepi pantai dan merasa sudah berhasil melihat ujung dunia. Sampai melalui perkataan ayah, kakek saya membawa saya berenang ke tengah lautan. Di sana saya sadar, saya hanya sebuah titik di hamparan laut yang luas. (ksh)
REFERENSI
Setiawan, M. (2018, 21 Juni). Antara Mengetahui dan Memahami. Diakses dari (https://www.kompasiana.com/mahbub-s/5b2aded416835f1aa46787d2/antara-mengetahui-dan-memahami)
Oleh : Aurakasih Cetaanjali Tanama Putra
“Ada pertanyaan?” begitulah kalimat yang sering terlontar ketika sudah sampai di penghujung presentasi. Tidak ada yang mengangkat jarinya, hanya kepala yang menoleh ke kanan dan ke kiri. Hening. Hawa canggung mulai terasa, hingga seseorang akhirnya mengacungkan tangannya tinggi. Semua mata tertuju padanya. Dua ekspektasi yang akan dipikirkan oleh yang lain: antara pertanyaan berbobot atau hanya ‘asal bertanya’.
Tetapi apa sebenarnya definisi dari ‘asal bertanya’? Dan pertanyaan apa yang dikatakan sebagai pertanyaan yang ‘berbobot’? Menurut saya, itu tergantung dari alasan yang mendasari pertanyaan itu. Jika seseorang bertanya untuk dapat merasakan yang disebut dengan ‘Aha Moment’, maka pertanyaan yang dilontarkan dapat dikatakan sebagai pertanyaan yang berbobot. Namun, sering kali orang bertanya hanya untuk mendapat perhatian, atau jika dilihat dari sudut pandang yang lebih positif, dia hanya ingin menghargai sang presentator.
Di beberapa kejadian, seseorang melontarkan pertanyaan yang sudah mengandung jawaban di dalamnya. Hal ini menimbulkan banyak reaksi negatif dari rekan satu kelas. Sang presentator akan merespon dengan kalimat, “Yang penting sudah ada keberanian untuk bertanya, itu sudah bagus.”
Situasi seperti ini justru sangat memprihatinkan bagi masa depan bangsa. ‘Critical thinking’ atau pemikiran kritis merupakan istilah yang sudah sangat umum digunakan. Bagaimana seseorang dapat mencapai titik tersebut jikalau situasi ini terus terjadi? Untuk itu, keterampilan bertanya harus dikembangkan pada setiap individu. Untuk mencapai fase berpikir kritis, seseorang harus berlatih bagaimana cara membuat pertanyaan yang berbobot. Keterampilan bertanya sebenarnya juga berfungsi sebagai instrumen untuk mengukur kemampuan awal dari seseorang. Ini menjadi alat yang digunakan untuk meluruskan tali yang kusut pada otak.
Dengan pertanyaan yang berbobot, seseorang dapat membuka perspektif baru dan terbuka dengan segala kemungkinan. Individu juga akan berkembang dengan lebih baik, menjalankan kehidupan dengan pemikiran yang lebih terbuka dan penuh dengan makna. Itulah mengapa bertanya dengan lebih baik dapat meningkatkan kualitas pemikiran seseorang.
Referensi :
Kompas. (2012, 2 Januari). Mengapa Kita Malu Bertanya Saat Presentasi?. Diakses dari (https://nasional.kompas.com/read/2012/01/02/14232634/~Karir~Dunia%20Kerja)
Syazali, M. & Nursaptini (2021). Observasi Keterampilan Bertanya Mahasiswa Melalui Implementasi Student Questioning Card (SQC). Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 9(2), 82-89.