
“Dik kapan mau dimulai, udah lewat berapa menit ini?” sela salah seorang wanita paruh baya menambah panas suasana yang sudah berlangsung sedari tadi.
Sekilas kalimat pendek itu sukses membuat para panitia yang berada di gedung Pusat Dokumentasi Denpasar menjadi panik. Pagi ini (23/04), adalah jadwal acara Penganurahan Pemenang Lomba Film Youth Sineas Award (YSA) Presslist 7, Madyapadma Journalistic Park. Memang sedikit terlambat dan tergesa-gesa. Namun semuanya tetap berjalan lancar.
“Tadi itu nominasi filmnya belum selesai dibuat, antara kesel panik, semuanya jadi satu,” seru Ni Putu Trisna Amarthya Dewi (16), Panitia YSA Film Fiksi. Dengan keadaan panik seperti itu, para panitia mencoba menenangkan diri satu sama lain. “Belum lagi tadi ada plakat yang jatuh terus patah, bener-bener krodit,”sesal I Made Angga Putra Dwipayana, salah seorang panitia yang turut serta dalam acara tadi.
Pukul 11.00 Wita, acara tersebut dimulai. Dibuka dengan doa dan sambutan dari Bapak Drs. I Putu Budiasa, M.Si, Kepala BPAD Kota Denpasar. “Acara seperti ini bagus pagi para sineas muda, harus ditingkatkan dan dikembangkan lagi, ” ucap pria berkacamata ini di tengah pidatonya. xxx
Ditemani iringan musik dari Homeband MP, para MC mulai membacakan nominasi-nominasi film fiksi dan dokumenter terbaik. “Gak nyangka bisa dapet juara. Seneng bangetlah rasanya,” ujar sutradara dari film Golak, yang dinobatkan sebagai film dokumenter tebaik, Nawang Riyadi (20).
Jeji Joned, sutradara film Sandal, pemenang lomba film Fiksi terbaik mengatakan, “Terimakasih untuk pihak-pihak yang membantu saya dalam pembuatan film Sandal, lomba ini harus terus dilanjutkan,” tuturnya mendukung Lomba YSA.
“Lomba seperti ini memang bagus, saya salut pada panitia yang sudah bekerja keras untuk menjalankan acara ini,” kata salah satu juri dari film Ysa, Gusti Ariadi. Semua peserta memang sudah mengirimkan karya-karya terbaiknya, namun dalam perlombaan menang kalah adalah hal yang biasa. Berjuang sepenuh tenaga dan selalu berdoa adalah kunci kesuksesan. (git/nan)