
Waktu penjurian Youth Sineas Award (YSA) tiba. Kain hitam dipasang di tengah-tengah Ruang Prajna Paramita SMA Negeri 3 Denpasar. Sekat-sekat tembok di sana, kini telah menjadi saksi bisu, terukirnya sejarah baru di kalangan para sineas muda Indonesia.
Jumat (15/4), penjurian untuk lomba Film Fiksi Madyapadma Youth Sineas Award, dalam rangka Presslist 7 telah diadakan. Di dalam ruangan itu, dengan serius para juri menyaksikan film-film yang ditampilkan dari LCD. Dari total 51 film fiksi yang terdaftar, 13 film yang sudah dikurasi sebelumnya dinilai saat itu.
“Ini adalah ajang yang sangat luar biasa, memberi wadah untuk sineas muda Indonesia untuk mengembangkan karyanya,“ ujar I Gusti Made Ariadi, S.Sn, ketika diwawancarai seusai penjurian. Menurut dosen Institut Seni Indonesia Denpasar Jurusan Film & Televisi itu, banyak film-film bagus yang terdaftar dalam ajang ini. Ide-idenya bagus dan banyak yang memberi surprise. “Banyak juga film yang mengangkat tentang isu sosial,” tambahnya.
Hal serupa juga dikatakan oleh Agung Bawantara, selaku juri. “Sesuai ekspektasi, karya filmnya bagus-bagus, ada kejutan-kejutan juga.” Berbagai aspek dinilai dalam penjurian film kali ini. Salah satu yang utama adalah aspek pengadegan. Disana dinilai bagaimana sang sutradara mengarahkan film itu agar sesuai dengan alur ceritanya. Selain itu, ada juga aspek ‘Misenscene’, yaitu aspek yang dapat dilihat dengan kasat mata dalam film. Misalnya segi cerita, wardrobe, make up, dan lain-lain.
“Setiap film mempunya kelebihannya masing-masing. Ada yang menonjol di bidang sinematografi, warna, alur cerita, dan yang lainnya. Jadi sulit sekali menentukan juaranya. Belum lagi setiap juri mempunyai nilai yang berbeda-beda,” jelas Gusti. Agung juga mengungkapkan hal yang serupa. Dirinya menuturkan bahwa sinematografi yang disajikan mayoritas di atas standar. “Jadi untuk menilainya itu harus pakek rasa, bukan matematika. Karena kalo menilai secara matematis itu justru menjebak, ” tutur Agung. Akibatnya, para juri perlu waktu yang cukup lama untuk menentukan para juara.
Meskipun baru pertama kali menjadi juri dalam ajang YSA Presslist 7, Agung dan Gusti memberi apresiasi yang positif kepada panitia penyelenggara. “Ini sebuah event yang memberikan banyak hal, harus diberi pujian. YSA harus terus dipertahankan!” harap Agung untuk penyelenggaraan Presslist ke depan.
Disinggung film mana yang dapat menarik hati juri kala penjurian tadi, I Gusti Ngurah Oka Pradana Yogaswara selaku koordinator bidang YSA Presslist 7, tidak mau angkat suara. “Ih kepo banget, tunggu aja pengumumannya pas Presslist,” celetuk lelaki berkaca mata ini sembari tertawa kecil. (nan/smy)