
Melihat, menyimak, kemudian bercerita melalui deretan aksara dan tulisan. Semuanya telah mengalir di dalam setiap denyut dan aliran darahnya. Namun kini, mereka ingin menjadi beda. Membuat sebuah gebrakan yang tak biasa.
Begitulah aksi yang dilakukan oleh ekstrakurikuler Madyapadma Journalistic Park. Bernaung di bawah payung media, tak menyurutkan gairah kelompok jurnalis muda ini melakoni hal yang berbeda. Bakat dan minat mereka, kini disalurkan melalui seni musik dengan melaunching mini album dari soundtrack film-film garapan MP beberapa tahun lalu.
Diwawancarai pada Selasa (5/4), Ni Putu Eka Lusiary Gayatri (16) selaku Steering Committee Mini Album mengaku bahwa project ini dilakukan sebagai upaya kembali menghidupkan soundtrack-soundtrack film yang pernah dibuat oleh anggota Madyapadma terdahulu. “Biar bisa didengar oleh anggota MP lainnya. Kan kasihan kalau dibuang begitu saja. Jadi kita recycle lagunya, terus kita buat mini album”, kata gadis yang akrab disapa Ucik ini.
Berlian Syarafina Larasati (16), sebagai vokalis dalam project ini mengaku sangat senang ikut menyukseskan mini album ini. “Enak aja, bisa kumpul sama teman yang sama-sama suka musik. Rasanya kayak satu darah. Teman-teman juga pada asik, bisa diajak negosiasi. Pokoknya tolerate lah”, sahut gadis berkulit putih itu. Laras, sapaan akrabnya, menuturkan bahwa kendala dalam mempersiapkan project ini adalah waktu, ‘dihantui’ deadline, serta dana. “Dana buat rekaman itu kan besar, sedangkan dana kita terbatas”, ujarnya.
Hal ini juga diakui oleh Ucik. Menurutnya, kapasitas budget menjadi salah satu momok project mini album ini. “Ya kita usahakan cari tempat rekaman yang bisa kasih keringanan harga. Terus mikirin alat-alat dan software yang pas untuk rekaman. Karena ini memang baru pertama kali”, pungkasnya. Bagi gadis berambut ikal ini, penjadwalan waktu latihan juga menjadi kendala, karena masing-masing personel mini album memiliki kesibukan masing-masing. “Ya susah aja menentukan jadwal, ada yang gak dikasi pulang malam, acara keluar, belum lagi alasan-alasan yang lain”.
Di balik semua kendala itu, Laras menginginkan agar project ini dapat berlanjut ke generasi-generasi Madyapadma selanjutnya. “Tentunya dengan talent yang lebih luar biasa”. “Aku harap hasilnya maksimal. Kita bisa mengemas apa yang sudah dibuat oleh kakak-kakak kelas Madyapadma dulu jadi lebih baik lagi. Semoga musik yang kita buat disenangi dan mendapat apresiasi positif”, asa Ucik menutup wawancara. (git/smy)