
Berantakan, bambu dimana-mana semua tidak beraturan. Beginilah potret suasana H-2 event tahunan yang rutin diadakan Madyapadma Journalistic Park.
Berkaca dari beberapa tahun lalu, kali ini Madyapadma Journalistic Park kembali melakukan penyusunan buku, namun tentunya dengan konsep yang berbeda dan lebih inovatif. Tahun ini tim Madyapadma Journalistic Park telah berhasil menyusun buku dan akan dilakukan peluncuran buku berupa bookfair. “Wow, awalnya sih aku gak nyangka bisa melakukan hal segila ini, tapi berkat bantuan temen-temen semua akhirnya aku dan tim dapat menyelesaikan penyusunan buku ini,” ujar Triadi Putra (17) selaku Ketua Bidang Buku dan Bookfair dalam Presslist 8. Lagi dan lagi “Kali ini benar-benar gak bisa ngebayangin, baru aja selesai nyusun beberapa buku, lagi aku disuruh buat bookfair. Awalnya sih aku gak sanggup, tapi karena terus dipaksa ya aku jalanin aja dan akhirnya aku mampu menyelesaikannya yeayyyy,” lanjutnya sambil tersenyum saat diwawancarai, Rabu (19/04).
Dalam beberapa hari terakhir ini sedang gencar-gencarnya dilakukan persiapan menjelang puncak acara. Berbagai kendala dihadapi mulai dari susahya nyari penerbit hingga membuat instalasi bambu "Walaupun banyak kendala, tapi kami yakin bookfair kali ini pasti akan berjalan lancar dan dapat menjadi patokan untuk tahun-tahun berikutnya soalnya ini pertama kalinya dilakukan kegiatan bookfair," harap Richie Arshanti (16) rekan sejawat Triadhi di kepanitiaan bidang Bookfair Presslist 8.
Tak hanya bookfair, di tahun ini Madyapadma juga akan menyampaikan aspirasinya melalui Deklarasi Petisi bertajuk “Reformasi Pendidikan Indonesia”. Hal ini membuat tim Madyapadma harus ekstra kerja dalam pembuatan petisi untuk menyukseskan acara Presslist ini. "Sebenarnya kegiatan petisi ini bertujuan untuk menyampaikan aspirasi kami mengenai carut-marutnya pendidikan di Indonesia," ungkap Galuh Sri Wedari (16) selaku Koordinator Bidang Petisi Presslist 8. Tak tanggung-tanggung untuk mematangkan konsep ini, seluruh tim Madyapadma Journalistic Park bekerja hingga larut malam untuk membuahkan hasil yang maksimal.
Amritha Ajna (16), yang juga panitia bidang petisi mengakui, "kita terkendala di direvisi, soalnya kan permasalahan pendidikan di Indonesia tu kan cukup kompleks, jadi sangat sulit membuat petisi yang jelas dan padat serta mencangkup semua permasalahan." Amritha tentu menginginkan acara-acara Presslist 8 ini dapat berjalan lancar dan sukses sesuai rencana. “Dapat lebih baik dari ini dan lebih menginspirasi para pelajar se-Indonesia," tutupnya. (Tim MP)