
3 Kursi kayu berwarna coklat tengah berada di atas panggung bersamaan dengan 3 gadis cantik yang terlihat mengobrol ringan. Ada apakah?
Hari menjelang petang, ada yang nampak berbeda dari beberapa jam sebelumnya. Kurang lebih 70 buah kursi berbalut kain putih dengan aksen pita merah dipenuhi oleh remaja-remaja dengan almamater yang berbeda-beda. Sang bayu rupanya turut datang temani puluhan pengunjung yang tengah berada pada acara Denpasar Book Fair 2019. Meski hari masih terang, namun lampu-lampu yang menyorot dari pojok-pojok ruangan seolah tak ingin kalah warnai acara Pertemuan Ilmiah Pelajar. Di atas karpet merah terdapat 2 anak perempuan yang menjadi narasumber dengan seorang moderator. Tjokorda Istri Sintawati dan Agnes Perana Swari, itulah kedua kartini cantik yang telah berkecimpung di dunia penelitian. Dipimpin oleh Amara Vira sebagai moderator, pembicaraan yang dikira akan sangat serius ternyata berjalan santai.
“Penelitian itu gak cuma tentang ipa-ipaan aja, tapi ada juga penelitian tentang ips,” Ujar anak perempuan dengan kacamata yang akrab disapa Tjok ti. Pada masyarakat awam akan penelitian pastinya akan memikirkan bahwa penelitian itu hanya tentang membuat suatu produk inovasi baru. Namun, permasalahan di kehidupan sosial pun memerlukan suatu solusi yang bisa didapat dari sebuah penelitian sosial. Banyak permasalahan sosial yang dapat dijadikan suatu penelitian, mulai dari masalah budaya, ekonomi, hingga geografis. Berbagai pertanyaan dari audiens mulai dilontarkan kepada Tjok ti dan Agnes. Tak hanya itu dalam sesi pertama ini juga membahas mengenai pengalaman memiliki prestasi penelitian tingkat Intenasional. “Jadi sebenarnya aku berawal dari suka stalking gitu lalu ngeliat prestasi temen-temen yang bisa dapat juara di luar negeri,” tuturnya ketika ditanya mengapa dirinya menyukai penelitian.
Tak hanya itu, acara pertemuan ilmiah pelajar ini dibagi menjadi dua sesi. Jika sesi pertama dihadiri oleh dua orang pembicara, berbeda dengan sesi kedua yang dihadiri oleh tiga pembicara yakni, Putu Sudiarta, Kadek Putra Puja Wirawan, dan Eka Kusuma Wardhani, dalam sesi kedua ini dibawakan moderator Gung Dina dengan apik.
Berbeda dengan sesi pertama yang lebih membahas mengenai pengalaman kedua pembicara, sesi kedua ini dapat dikatakan sebagai ‘menu utama’ pada Pertemuan Ilmiah Pelajar. Tidak hanya membahas mengenai seluk beluk penelitian. Sesi kedua ini juga membahas mengenai menjaga kekayaan HKI (Hak Kekayaan Intelektual) dan trend-trend peneliti muda masa kini. “Merasa tidak pantas berada di satu panggung sama pak Putu Sudiarta karena beliau orang yang hebat. Saat aku masih jadi peserta di ISIF beliau sudah menjadi juri disana,” malu yang akrab disapa Puja. Adanya hal tersebut juga memiliki kesan tersendiri bagi Agnes “Engga ada kata terlambat untuk memiliki prestasi, jadi ayo mulai dari sekarang cari permasalahan yang ada disekitar dan cari solusinya,” tutup siswa dari SMAN 2 Denpasar.(dyt/ade)