
Pergerakkan roda perbukuan di Madyapadma mulai terlihat kembali. Makin kesini gairah dalam menerbitkan banyak bukupun disetiap tahunnya menjadi tantangan bidang desk buku, namun satu hal yang tidak boleh dilupakan ditengah gairah menerbitkan buku Madyapadma yakni kualitas.
Sebuah buku yang berhasil diterbitkan anak-anak berseragam putih abu 17 tahun silam berhasil membuka jalan kepada puluhan buku lain karya Madyapadma Journalistic Park. Buku Bali, Oh Nasibmu menjadi awalan yang baik dalam sejarah penerbitan buku Madyapadma. Buku pertama karya Madyapadma itu mengangkat tajuk yang tidak ringan ditangan para remaja saat itu. Sebuah buku yang didedikasikan agar masyarakat lebih peduli sekitar. Mengupas berbagai problema yang tengah dihadapi pulau dewata itu pada masanya. Berbekal tekad serta semangat yang kuat, anggota Madyapadma Journalistic Park angkatan 25 berhasil membuat gebrakan dan menjadi panutan untuk anggota Madyapama di tahun-tahun berikutnya.
Kisah penerbitan buku karya Madyapadma tak berhenti sampai disitu saja. Terhitung hingga kini Madyapadma Journalistic Park telah berhasil menerbitkan total 67 buku. Tentu angka tersebut bukanlah angka yang kecil. Kata puas seolah tak pernah ada di dalam kamus anggota Madyapadma. Setiap tahunnya siswa-siswi yang berada di bawah naungan Madyapadma ini selalu berhasil menyiapkan hidangan yang berhasil menarik hati pembaca. Ni Made Fina Pradnyani Pratiwi (20), salah satu alumni Madyapadma yang ikut berkecimpung pada proses penerbitan beberapa buku Madyapadma menuturkan bahwa alasannya sederhana yakni karena rasa suka dan keinginan. Berawal karena keisengannya tuk turut serta menulis buku, yang akrab disapa Fina ini menjadi bisa melihat namanya sebagai bagian dari buku-buku tersebut. Teluk Benoa: Magnet di Kaki Pulau Bali, Korupsi Mulu Apa Tidak Kenyang, serta sebuah novel berjudul Pulang merupakan serentetan buku yang berhasil ditulis Fina. “Yang di perluin sih pastinya keberanian menulis, berargumen, serta terjun langsung untuk dapetin materi-materi tulisannya. Kalau perlu kita juga harus nyiapin timetable sebagai pengingat,” ungkapnya yang bergairah dalam menerbitan bukunya kala itu.
Jumlah buku yang dihasilkan Madyapadma setiap tahunnya dapat mengalami penurunan maupun peningkatan. Jumlah buku yang dihasilkan tiap tahunnya selalu berubah-ubah. Hingga saat ini anggota Madyapadma angkatan 39 lah yang berhasil menjadi pencetak buku terbanyak. Mereka berhasil menerbitkan 15 buku setelah melewati berbagai lika-liku proses penerbitan. Tentu saja keberhasilan tersebut tidak didapatkan dengan cuma-cuma. Perjuangan-perjuangan yang dilakukannya, rasa lelah dan jenuh yang kerap kali berkunjung namun hal itu berhasil ditepisnya. “Kita selalu mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Kalau jumlah buku sedikit gak masalah yang penting kualitasnya. Tapi terkadang kita terlalu bergairah buat bukunya dan jumlah buku yang diterbitin jadi banyak banget itu juga gak masalah asal diseimbangin sama kualitas bukunya,” aku Mutiara Diva Ramadhani (16) selaku pemimpin desk buku MP 41.
Tahun ini pun masih sama, anggota Madyapadma tengah sibuk persiapkan buku-buku yang akan diluncurkan pada Presslist 10 dan Madyapadma Festival Buku mendatang. Semangat perjuangan berkobar di dalam diri Madyapadma. Kini mereka tengah fokus mengumpulkan berbagai materi yang akan menjadi isi buku kedepannya. Presslist 10 dan Madyapadma Festival Buku sudah di depan mata. Persiapan sedang gencar-gencarnya dilakukan. Jika dilihat dari jumlah buku yang telah diterbitkan, gairah menerbitkan buku di Madyapadma sangat tinggi. Tahun ini pun masih sama, gairahnya tengah memuncak ditambah lagi presslist tahun ini mengambil Madyapadma Festival Buku sebagai acara utamanya. Buku karya Madyapadma memang selalu hadir temani rentetan acara Presslist. “Motivasi kita sih lebih ke arah malu sama angkatan sebelumnya. Angkatan sebelumnya aja bisa buat buku masa kita nggak. Buku ini juga sebagai bukti fisik bahwa kita ini ikut ekstrakurikuler jurnalistik,” jelas gadis berambut panjang di akhir wawancara. (dyt / ade / sa)