Home Resensi


Judul buku : Tuesday With Morrie

Pengarang : Mitch Albom

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : ke-6 2009

Tebal : ix + 209 halaman


‘Setiap orang tahu mereka akan mati

tapi tak seorang pun percaya itu akan terjadi pada mereka sendiri’.

 

Album ini dirilis kurang dari setahun dari album mereka kelima mereka yang berjudul Folie A Deux di awal 2009. Band yang dimotori oleh Patrick Stump sebagai vocalist, Pete Wentz sebagai bassist, Joe Trohman sebagai guitarist, dan Andi Hurley sebagai drummer ini, merilis album kumpulan lagu terbaik mereka. Album itu berjudul Belivers Never Die yang berisikan Ini 18 tracks dari lagu terbaik mereka dari album sebelumnya. Seperti, Dance Dance, We’re Going Down, This Ain’t A Scene It’s An Arm Race, bukan hanya itu, di album ini ada dua lagu terbaru yaitu Alpha Dog dan From Now We’re Enemies.

Masih seperti lagu-lagu dari FOB sebelumnya, warna musik Yng diusung di lagu ini juga kurang lebih masih seputar lirik kritis plus timbre suara Patrick sang vocalist yang bisa membawa mood pendengarnya, dibalut dengan raungan gitar yang berdistori, tempo yang sangat up beat dan permainan synthesizer yang cukup lihai. Semua itu masih dipertahankan band ini dari awal kemunculan mereka di album rilisan major lebel pertama mereka. Formula inilah yang menghantarkan band ini menjadi salah satu band dengan penjualan album tinggi dan menduduki posisi juara di berbagai charts musik.

 

 

(Pertarungan Membalaskan Dendam)

 

Clash of The Titans

Sutradara    : Louis Leterrier
Penulis        : Travis Beacham, Phil Hay, Matt Manfredi
Produser     : Basil Iwanyk, Kevin De La Noy, Richard D. Zanuck
Genre           : Fantasy - Remaja (teenage)
Produksi      : Warner Bros. Pictures
Pemain        : Sam Worthington, Alexa Davalos, Danny Huston, Pete Postelthwaite, Ralph Fiennes, Liam Neeson

Film ini menceritakan tentang Perseus (Sam Worthington) yang merupakan keturunan Dewa Zeus (Liam Neeson) ,dibesarkan di antara para manusia dan tak pernah tahu kalau ia memiliki kekuatan dewa. Perseus bahkan tak bisa berbuat banyak ketika keluarganya menjadi korban keganasan Hades (Ralph Fiennes), Dewa Kegelapan, yang berusaha menguasai seluruh alam semesta.

CLASH OF THE TITANS yang diedarkan Warner Bros. ini sebenarnya adalah remake dari film berjudul sama yang muncul di tahun 1981. Ide dasarnya adalah menghidupkan lagi kisah lama ini dalam bentuk visual yang lebih bisa diterima konsumen saat ini. Artinya, tak akan banyak perubahan yang dilakukan kecuali memperbaiki sisi visual dan itu tidak akan terlalu sulit karena teknologi film saat ini jelas jauh lebih maju.

Dalam soal visual, CLASH OF THE TITANS ini memang tak mengalami banyak masalah. Disajikan dalam dua format, 2D dan 3D, teknologi CGI yang digunakan dalam film ini memang jauh lebih realistis dari versi aslinya. Sayangnya hanya itu yang bisa diharapkan dari film ini. Selebihnya tak banyak yang bisa dilihat. (chm)

 

 

Judul Film         : Avatar

Pemain             : Sam Worthington, Zoë Saldaña, Stephen Lang, Michelle Rodriguez, Giovanni Ribisi, Sigourney Weaver

Sutradara : James Cameron

Durasi : 160 menit


Film Avatar adalah film sains fiksi 3D yang disutradarai oleh James Cameron. Cerita dan skenario film Avatar ini sudah disiapkan sutradara ini sejak 1994. Namun karena kendala teknis teknologi perfilman penggabungan unsure animasi komputer dan seting asli adegan film itu baru terlaksana tahun 2006. Film ini mengambil set di tahun 2154 saat bumi kehabisan energi. Tokoh utama, Jake Sully (diperankan Sam Wortington), seorang mantan marinir lumpuh yang diangkut ke planet Pendora. Di planet ini umat manusia telah membangun proyek penyalahgunaan yang disebut Hell’s Gate dengan maksud untuk melakukan penambangan mineral langka yang disebut “unobtainium.”

Inovasi lain yang dibuat untuk Avatar adalahVirtual Camera, dengan harapan memungkinkan pengambilan adegan-adegan di dalam dunia hasil generalisasi komputer, seolah-olah seperti saat ia sedang melakukan syuting di dalam studio. yang paling luar biasa adalah keberhasilannya dalam menyeimbangkan ketepatan antara drama berbasis kisah dongeng dan dunia khayal lewat generalisasi computer. Wow ! (chm)

 

 

Judul : Snow Country (Daerah Salju)

Penulis : Yasunari Kawabata

Penerbit : Gagas Media, Cetakan I 2009

Tebal : 188 halaman

Snow Country (Daerah Salju) adalah satu novel Yasunari Kawabata yang paling terkenal dan kerap dibicarakan sebagai karya sastra yang indah sepanjang masa. Sebagai peraih nobel di bidang sastra, Yasunari kawabata tentu memiliki suatu keunggulan dalam novel – novelnya. Tak hanya dari kualitas cerita yang disusun dengan awal yang rumit. Tokoh – tokoh yang awalnya tak dirasa saling berkepentingan ternyata memiliki ujung- ujung kail yang mampu memancing pikiran pembaca untuk menerka dan menghubungkannya dengan tokoh lain.

 

Seperti salah satu tulisan Yasunari Kawabata yang berjudul Beauty and Sadness (Kecantikan dan Kesedihan), dalam novel ini pun Kawabata menyajikan cerita cinta yang pelik. Bila pada umumnya penulis – penulis cerita cinta lebih menekankan tokhnya pada anak muda. Tidak demikian dengan Kawabata. Lelaki kelahiran Osaka, 14 Juni 1899 ini, berusaha menghadirkan sisi lain dari cinta yang kerap dianggap tak pantas atau tidak wajar dengan menghadirkan tokoh Shimamura, seorang lelaki beristri yang memiliki hubungan dengan seorang geisha, Komako. Cerita ini berawal ketika Shimamura melakukan perjalanan untuk berteu Komako. Dan dalam kereta ia bertemu dengan Yoko yang tengah merawat lelaki tua. Dimana ternyata lelaki tua itu adalah calon suami Komako. Kebencian pun mulai tumbuh dalam diri Komako. Bukan karena Yoko merawat calon suaminya, namun karena Yoko berhasil membuat Shimamura terpesona saat mereka bertemu di kereta.

Cerita dan teknik deskriptif surealis yang digunakan Yasunari Kawabata hampir tak ada cacat sedikit pun. Memang sudah sepantasnya bagi peraih nobel sastra. Namun, cover novel ini terlalu dingin. Terlebih, teknik penempatan judulnya kurang menarik perhatian seolah tanpa penekanan yang mana judul, penulis dan penerjemahnya. Tetapi terlepas dari semua itu, dengan membaca Snow Country (daerah Salju) kita akan menyadari bahwa terkadang cinta yang nyata tak lebih indah dari cinta yang tak nyata.(ayu)

 

 
More Articles...
Jam