• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

Berbadan tambun dan berkulit putih dan selipan kaca di bagian matanya, terlihat bagai seseorang yang cerdas dengan penelitian. Namun siapa sangka di balik itu semua ia sempat berkali-kali dihantam kegagalan. 

     I Nyoman Aris Suardana yang akrab disapa Aris ini memulai passion penelitiannya sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). “Sering ikut lomba, jadinya ketagihan sampe terkenal keseringan dispennya,” papar siswa yang kini tengah duduk di bangku kelas 10 SMAN 3 Denpasar.

     Lika –liku perjalanan meniti karirnya di bidang penelitian pun menuai beragam 'warna,' salah satu yang tidak pernah ia lupakan adalah saat mengikuti lomba penelitian tingkat Internasional di Thailand beberapa minggu lalu. “Awalnya gagal buat biofoam, terus direvisi Kak Ananta dan gagal lagi, saat itu udah mulai frustasi nih,” ujarnya dengan nada naik turun mengenang kejadian itu.
Akan tetapi, perjuangan yang ia lakukan tak hanya sampai disana dari yang ditelephone oleh pembina hingga adu mulut dengan satpam pun ia jalani saat itu. “Sempet ditelepon sama kak Ananta disuruh ambil penelitiannya dan buat di rumahkan, dan apesnya pas itu sekolah tutup ya terpaksa jadinya adu mulut sama satpam sekolah,” kenangnya. Perjuangan masih tetap berlanjut hingga akhirnya pengumpulan berkas yang hanya tersisa 4 jam. Namun, Aris yakin selama dia berusaha, hasil pun tak akan menghianatinya. Selayaknya kutipan Yohannes Surya 'mestakung', semesta mendukung.

      Dari semua perjuangan yang ia rasakan saat itu, hal yang tak terlupakan juga dialaminya, pada saat sudah berada di Thailand. “Karma orang sombong ya, jadi ada hasil penelitian biokomposit yang patah pas mau penjurian. Itu karena aku yang sering pamer banting-banting penelitiannya , eh pas jatuh sekali waktu penjurian udah patah, itu hal yang paling memalukan,” paparnya dengan guratan senyum tipis mengingat kejadian tersebut. Namun, dari rintangan yang menghadang akhirnya sebuah medali emas dapat ditorehnya. Dari perjalan biokomposit itu, akhirnya Aris sadar, “Berjuang sampai Titik Darah Penghabisan intinya,” tutupnya dengan lugas. (Anj)

Pengunjung Lainnya

We have 112 guests and no members online