• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Khusus

Serangkaian lomba kembali menghiasi HUT Trisma ke-41 pada hari Selasa(16/01) setelah mengambil jeda sehari untuk merayakan hari Siwaratri yang jatuh pada hari Senin(15/01). Perlombaan ini diharapkan dapat menggali bibit-bibit emas penerus budaya Bali.

    SMA Negeri 3 Denpasar terkenal dengan seni dan budaya, kini kembali mengapresiasikan bakat anak muda bali dengan melaksanakan lomba makendang, mawirama dan nyurat aksara pada hari Selasa(16/01) dalam rangkaian HUT Trisma ke-41. Meskipun pelaksanaannya dilakukan tepat sehari setelah hari suci Siwalatri, perlombaan ini masih dapat berjalan dengan lancar.

    Nyoman Erlangga selaku panitia lomba nyurat aksara Bali mengaku perlombaan kali ini telah berjalan dengan lancar. "Untuk lombanya lancar, hanya ada peserta yang tidak tuntas dalam menyalin soal ke lontar," jawabnya. Ia juga sempat menyatakan pendapatnya mengenai kemampuan nyurat aksara Bali di kalangan remaja zaman sekarang, "Menurut saya kemampuan menyurat aksara bali sudah banyak diminati namun bentuk aksara dari peserta tersebut masih perlu dilatih kembali, karena selisih nilai dari juara 1 sampai ke bawah sangat jauh. Jadi itu menandakan adanya bentuk tulisan yang sangat jauh berbeda," tambah pria yang akrab disapa sebagai Erlangga.

    Tak hanya perlombaan menyurat aksara, lomba makendang dan mawirama juga turut serta memeriahkan lomba yang bertepatan sehari setelah hari suci Siwaratri tersebut. Perlombaan makendang yang diikuti oleh 12 siswa siswi SMP se-Bali berjalan dengan lancar. Menurut Andika Putra(17) selaku panitia lomba makendang, kemampuan anak muda di bali dalam hal makendang sudah semakin berkembang. Hal ini dikarenakan motif dan pola kendang yang sudah dikembangkan.

    Begitu pula dengan lomba mawirama, Eka Aprilianti(16) selaku panitia lomba mawirama juga menyatakan pendapat yang senada. Hanya saja karena pelaksanaan lomba-lomba ini bertepat setelah hari Siwaratri, ada beberapa peserta yang tidak bisa mengikuti perlombaan pada hari-H. "Ada anak SMP yang ingin ikut lomba tapi masih mekemit di pura," ujarnya. Bahkan saat di hari-H ada yg mengundurkan diri sebanyak putri 2 orang dan putra 2 orang pada perlombaan nyurat aksara Bali. Dengan demikian, diadakannya lomba-lomba dalam bidang seni tersebut diharapkan mampu mengapresiasikan bakat anak muda Bali sekaligus mendukung serta melestarikan kebudayaan Bali. (gau/msk)

Pengunjung Lainnya

We have 416 guests and no members online