• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Jelajah Sepeda Bali Barat 2018

Image and video hosting by TinyPic

“Ya, sekarang kita lanjut ke Pantai Yeh Gangga,” kata tim pesepeda ketika diwawancarai. namun ada yang berbeda hari ini dengan para pesepeda dan non sepeda, pasalnya semangat mereka seperti mengingatkan kembali dengan Lubdaka. Ada apakah?

 Senin (15/01), bertepatan dengan hari Siwalatri yang di mana dilaksanakan persembahyangan untuk memohon doa kepada maha kuasa bagi umat hindu. Namun tampak berbeda kali ini pasalnya pukul 08.00 WITA para rombongan Ekspedisi Jelajah Sepeda Bali Barat dari Madyapadma serta Forum Peneliti Muda Trisma terlihat tidak melakukan persembahyangan namun melanjutkan perjalanan ke Pantai Yeh Gangga - Taman Ayun. 

     Perayaan Siwalatri kali ini dilaksankan berbeda oleh para pejelajah sepeda serta tim non sepeda. Perayaan ini tanpa disengaja oleh pihak panitia ekspedisi, hal ini diungkapkan oleh Adi Soekariawan, selaku guru pembimbing “Kami dari pihak panitia tidak merencanakan akan memilih tanggal yang pas saat Siwalatri ini, jadinya ini adalah hari spesial yang datang lalu kita bisa merayakannya dengan kesan yang beda,” ungkapnya. Ia juga menambahkan kalau perayaan ini sama baiknya, walupun tidak bersama keluarga. “Jujur saya sangat rindu bersama keluarga, biasanya sembahyang bersama namun kali ini saya memiliki aktivitas yang sejalan dengan hari Siwalatri, ya mau seperti apa lagi,” curhatnya.

    Hari Siwalatri ditengah Ekspedisi Jelajah Sepeda Menelusuri Bali Barat menuai berbagai pandangan dari siswa-siswi trisma yang ikut dalam ekspedisi ini. Beberapa dari mereka tidak suka dengan keadaan Siwalatri kali ini. “Sebenarnya engga setuju sih, soalnya kalo Siwalatri gini persembahyangan kita akan kurang baik, pasti ada saja yang kurang lengkap seperti pakaian dan barang bawaan sesaji untuk dewa plus juga susah untuk berpuasa atau begadang juga,” ungkap Desinta Linggarcani (16) tim jelajah sepeda. Namun berbeda dengan pengakuan Tjok Sinta (15) ia mengaku bahwa Siwalatri yang diadakan kali ini sangat spesial bagi dirinya. “ Menurutku sih, Siwalatri kali ini lebih berkesan dari tahun sebelumnya yang biasanya hanya dengan keluarga namun sekarang bersama teman-teman,” ujar gadis yang memiliki rambut sebahu ini. Tjok Sinta juga mengungkapkan rasa prihatin kepada temannya yang rindu dengan keluarga. “ Ya ini udah masuk hari ke 5, aku kasihan sama teman-teman yang ingin bersembahyang bersama keluarga menjadi terhambat karena kegiatan ini,” lanjutnya.

   Sejati dengan tulus ikhlas melaksanakan perayaan ini telah bernilai besar. “ Seharusnya bisa mencontoh cerita Lubdaka dia bisa melaksanakan persembahyangan tanpa mempunyai perlengkapan yang lengkap, berbeda dengan orang yang sudah melakukan persembahayangan tapi dengan pacarnya nah itu pasti mereka tidak fokus dengan tujuan sembahyangnya,” jelas Kadek Adiana Putra selaku guru sejarah. Ia juga mengharapkan kalau kedepan siswanya dapat lebih bisa menghargai waktu. “Siwalatri ditengah ekspedisi seperti ini jarang terjadi, ya nikmati saja,” lanjutnya. Ia juga menambahkan kalau semangat tim ekspedisi ditengah Siwalatri ini membara karena para tim Ekspedisi Jelajah Sepeda Bali Barat ini sudah menerapkan sikap yang ditunjukan Lubdaka seorang pemburu yang berpuasa dan begadang di tengah hutan pada malam Siwalatri, adanya hal tersebut para tim ekspedisi rela melakukan perayaan Siwalatri dengan keadaan sedang melakukan tugasnya. Melihat hal tersebut, Karina Dwityas pun mempunyai harapan untuk tim ekspedisi ini. “Semoga dalam perjalanan kita dari awal hingga akhir direstui oleh para dewa,” tutupnya. (sa)