• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Jelajah Sepeda Bali Barat 2018

Image and video hosting by TinyPic“Waduh, ga pake pejaten ini. Apa ya? Beda pokoknya!” kata Cok Yudistira(49) sambil menunjuk atap rumahnya yang telah direnovasi.

     Kian tenggelam, nama genteng pejaten seakan tinggal kenangan. Bahannya yang terbuat dari tanah liat kini mulai diragukan para pembangun bangunan khususnya untuk atap rumah. Pasalnya, perkembangan zaman telah melahirkan genteng dengan bahan berbeda yang dianggap masyarakat lebih kuat.
    “Soalnya waktu itu juga ditawari tukang, katanya merk genteng yang saya pakai sekarang lebih bagus dari pejaten. Jadi ngikut saja,” aku Cok Yudistira yang sempat merenovasi rumahnya pada 2013 lalu.
    Berkebalikan dengan Cok Yudistira, Ni Luh Kompiang(48) mengaku bahwa dirinya ‘jatuh cinta’ pada genteng Pejaten. “Harganya lebih terjangkau, awet, dan tahan lama,” katanya mantap. Selain itu juga karena genteng ini tahan bocor sehingga semakin ia minati.Selain itu juga menurut ibu dua anak ini, genteng produksi pejaten memiliki kualitas yang kuat dan tahan bocor.
    Hal ini pun diakui oleh Sari(28) salah satu pekerja di perusahaan genteng pejaten. Bekerja selama 1 tahun di tempat ini, ia berkata kualitas pejaten unggul untuk menahan panas. Namun di balik kualitas genteng pejaten yang unggul, terdapat pembuatan yang agak rumit. "Apalagi waktu hujan. Jadinya harus nunggu kering lama. Ga ada sinar matahari," tuturnya dengan mata sayu.
    Pembuatan genteng sebanyak 300-400 buah per hari cukup membuat tangan wanita beranak satu ini penuh dengan tanah yang mulai mengering. Dengan menggendong anak perempuannya ia menuturkan, "itu tadi baru saja dijual pakai truk. Biasanya harga jualnya Rp160.000 per seribu genteng." Dengan patokan harga sekian, Sari berkata bahwa tarif yang dipasang sudah murah dibanding genteng lain yang dihargai Rp190.000 per seribu buahnya.
    Menanggapi penurunan minat masyarakat terhadap genteng pejaten juga menarik rasa dilema Sari yang merantau dari Lombok ini. Di satu sisi ia sedih jumlah peminat sedikit dan ingin sekali berpindah profesi, namun di sisi lain ia hanya berbekal keahlian membuat genteng."Pokoknya sedihlah. Semoga saja ke depannya banyak yang beli, supaya saya 'tidak kesusahan' juga," harapnya dengan senyum kecut. (cw)