• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Jelajah Sepeda Bali Barat 2018

Image and video hosting by TinyPic

Pukul 10.00 WITA telah berakhirnya kegiatan bertukar pengalaman dengan saudara kita yang ada di Melaya.“Jangan lupa sama kita ya,” pinta Kadek Sriyani Dewi (17) menandakan perpisahan ketika diakhir wawancaranya dengan tim ekspedisi.

   Tidak hanya Sriyani namun 62 orang di Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak “Giri Asih” dari anak SD hingga SMK menyambut dengan gembira kedatangan tim bakti sosial Ekspedisi Jelajah Sepeda Bali Barat 2018, Minggu (14/01). Mata berbinar mereka menandakan harapan datangnya tim bakti sosial ini. Hal ini diungkapkan oleh Purwanto selaku pemilik panti tersebut. “Tuhan itu sangat baik sudah mengirimkan kalian kesini,” sambutnya yang kebetulan sedang mengalami kesulitan ekonomi. Panti yang berdiri sejak 1963 ketika Gunung Agung meletus ini adalah panti yang dikasihi untuk mengasihi. “Sesuai motto kami, panti itu sebenarnya tidak hanya untuk menerima tapi memberi,” ungkapnya. Ia juga menambahkan bahwa panti ini menerima semua orang yang ingin bergabung. “Kalian boleh belajar atau tinggal disini, kebetulan juga panti ini tidak ada pagar yang membatasi jadinya bebas dibuka 24 jam,” celetuknya ditengah keseriusan.

   Kesulitan ekonomi panti pernah dirasakan langsung oleh Sri Sulityanigtyas selaku istri pemilik panti Giri Asih. Dirinya mengungkapkan, 10 tahun lalu sebelum ia menjadi pemilik, panti ini ditinggalkan dengan keadaan di bawah. “Jadi sebelum ada kami, panti ini sempat mempunyai masalah dalam keuangan sehingga donatur tidak mempercayai panti ini,“ katanya. Tidak hanya itu sampai sekarang pun panti Giri Asih ini tidak memiliki donatur yang tetap. “Setiap bulan kami membutuhkan 40 juta untuk membiayai anak disini,” curhatnya yang bingung mendapatkan uang dari mana. Wanita berkacamata yang memiliki ternak babi ini pun menambahkan pernah suatu hari tidak ada makanan apapun namun ketika keesokan paginya sudah ada sembako lengkap didepan ruang panti. “Mukjizat tuhan itu ada, ketika kita tidak memiliki apa-apa namun tetap masih berdoa mengingatnya, kebutuhan yang diinginkan itu datang dengan sendirinya, saya sangat berterimakasih sekali untuk yang sudah membantu walaupun saya tidak mengetahui siapa dia,” ceritanya.
   Terlepas dari kesusahan yang dialami pasangan suami istri pemilik panti Giri Asih ini juga mengatakan kalau kesuksesan anak yang diasuhnya adalah kebahagiaan yang luar biasa dari pada uang. “Ketut Suarta pemilik Mapindo itu adalah alumni dari sini, saya sangat bangga sekali sama dia yang sudah menjadi orang kaya di Denpasar sana,” bangganya. Tak hanya itu, pemilik panti ini juga mengakui bahwa alumni itu sering memberikan bantuan disini walaupun bukan donatur tetap.
   Perjalanan Jelajah Sepeda Bali Barat yang ini juga diselingi bakti sosial, juga menjadi kegiatan rutin yang diadakan setiap ekspedisi ditengah pesepeda yang melanjutkan perjalanan ke Desa Melaya menuju Desa Pangyangan. Sisanya melakukan riset dan peliputan di Taman Nasional Bali Barat - Pantai Madewi.
   Laksmi Kristyari selaku tim bakti sosial menanggapi bahwa panti Giri Asih ini harus segera memiliki donatur tetap. “Karena itu kepentingan saudara kita khususnya dipendidikan demi masa depan mereka,” imbuhnya. Ia juga menambahkan diakhir wawancara “ Kalau bukan kita siapa lagi yang peduli dengan mereka”. (sa)