• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Jelajah Sepeda Bali Barat 2018

Image and video hosting by TinyPic

 Bau anyir kian menjadi. Menusuk indra penciuman setiap orang yang berlalu lalang. "I can't, smell not so fine," keluh turis kebangsaan Swiss itu sembari menutup hidung dan menggelengkan kepalanya berulangkali.

      Siang (14/01) Heidi, turis mancanegara tampak asik mengamati puluhan perahu besar yang ada dihadapannya. Meski aroma amis ikan makin menjadi, tetapi mata Heidi tiada hentinya bergerak. Melihat setiap detail hiasan pada perahu itu.

    Maklum saja, perahu nelayan Pengambengan memilki ciri khas tersendiri pada motif hiasan. "Saya kesini hanya untuk lihat perahu begitu unik, tak ada yang seperti ini di negara saya," kata Heidi dalam bahasa Inggris. Perempuan berambut pirang itu seakan asik menikmati pemandangan perahu besar yang terparkir di Pelabuhan Pengambengan itu. Namun, Heidi tak tahu ironi yang tersembunyi di balik parkiran perahu itu.

     Terpakirnya perahu itu, bukannya tak beralasan. Pasalnya semenjak cuaca buruk yang melanda 4 bulan belakangan, menyebabkan para nelayan harus beristirahat sejenak untuk melaut. Joni (45) pun mengakuinya, ia harus bekerja sampingan demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. "Kalau pakai perahu besar bisa 4-5 ton, tapi ikan lagi sepi dan saya mutusin melaut pakai perahu kecil saja, daripada menganggur," ungkapnya. Namun, tak hanya dia, rekan sesama nelayan lain juga senasib. Bahkan terkadang merantau hingga keluar kota untuk mencari alternatif pekerjaan. Namun, berprofesi sebagai nelayan bukan perkara mudah bagi Joni. "Kita kan gak tau nanti di laut akan seperti apa. Dulu, teman saya sempat putus tangannya bahkan ada yang hilang di laut, semua sudah biasa, namanya juga resiko," tuturnya sembari mengerutkan alis.

   Kini, Pelabuhan Pengambengan terlihat sepi, transaksi tak sepadat empat bulan lalu. Perahu pun tak berlayar, hanya ada sedikit ikan untuk dipasok. Di sisi lain, Subaidi (70) pun bernasib sama dengan Joni. Pria yang berprofesi sebagai pencari sisik ikan ini, tampaknya harus menghela nafas, karena nelayan jarang melaut. "Satu karung sedang dihargai 6000 rupiah, tapi kalau nelayan jarang melaut, tak seberapa sisik yang saya dapat," ujarnya. Jelas, pekerjaan pria paruh baya itu tak menjanjikan. Namun, "Apa boleh buat, gak ada yang mau menerima pekerja seperti saya," kata pria asal Jember ini. Miris begitulah nasibnya. Akan tetapi, ia berusaha mengais secercah harapan rezeki meski pekerjaan itu tergolong tak layak. Subaidi hanya dapat berpasrah bila tak ada nelayan yang pergi melaut. "Namanya juga kerja, gak semua berjalan mulus," ungkapnya.

     Beranjak dari Joni dan Subaidi, pemandangan perahu besar yang diamati Heidi ternyata tak seindah rupanya. Terselip keluh kesah bagi nelayan hingga masyarakat sekitar, yang tak dapat terdeteksi dengan kasat mata seorang Heidi. (non)