• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Jelajah Sepeda Bali Barat 2018

Image and video hosting by TinyPic

 “Selamat makan, siang ini disambut dengan nasi bungkus,” seru Putri Deswita (16) kepada temannya. Ya, suasana kebersamaan jarang didapatkannya, apalagi di Resort Trijaya, Jumat (12/01).

    Celetuk yang akrab disapa Putri itu, jelas membuat riuh tawa dari tim lainnya kian memecah. Menikmati sebungkus nasi ketika berada di penginapan. Ditambah udara dari pepohonan datang menyejukan daerah home stay yang ditempatinya, ya memang nikmat. Apalagi setelah menempuh perjalanan dari Pura Pulaki ke home stay menuju Pantai Pasir Putih Banyuwedang.

    Kala itu, suasana Desa Banyuwedang itu tak menarik ditambah udara terik menyebabkan jika orang berlama-lama akan bosan. Tak banyak orang mengetahui daerah tersebut, apalagi untuk menghampirinya. Padahal Banyuwedang ini tempat awal timbulnya sumber mata air panas dari patahan gempa, hal ini diakui oleh I Made Kris Adi Sastra Selaku analisis dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). “ Sebenarnya ada 3 patahan gempa patahan tersebut berada di seririt tepatnya di laut Desa Pengastulan, ada juga patahan di Gilimanuk yang timbulnya mata air panas di Desa Banyuwedang ini serta patahan yang baru ditemukan di Tejakula,” paparnya.

    Sejak tahun 1976 gempa 6,2 SR melanda Seririt yang berakibat tsunami kecil menimbulkan terjadinya patahan gempa. Adanya patahan yang telah menjadi sumber mata air panas ini pun sekarang digunakan sebagai objek wisata bagi para pengunjung. Hal ini diakui oleh Kadek Ratih selaku wisatawan. “Ternyata benar kata saudara saya kalau tempat ini bagus,” tuturnya yang baru pertama kali ke Banyuwedang.

    Menurut Komang Sudiasa Artawan selaku pengelola Banyuwedang mengungkapkan bahwa sumber air di pantai pasir putih Banyuwedang ini mengalir ke pemandian air panas. “Air dari pantai ini juga dialiri ke pemandian air panas jadi dibangun beton pengaman yang melingkar supaya ketika air laut pasang sumber air panas tidak tercampur dengan air laut,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa wisatawan biasanya datang kepemandian air panas cenderung menginginkan kesembuhan penyakitnya. “Ya, air yang mengalir dari pantai ke pemandian itu bisa untuk kesembuhan penyakit karena memiliki suhu 40 derajat celcius,” lanjutnya.

   Adanya patahan gempa itu menjadikan pantai ini harta karun bali yang tak terungkap. Pasalnya pantai ini menaikan taraf perekonomian warga setempat. “ Semenjak ada sumber air panas dari pantai banyuwedangini warung saya menjadi ramai karena banyak wisatawan yang mampir kesini sehabis dari pantai atau pemandian itu,” ujar Ni Ketut Febi Trisyani sebagai pedagang makanan.

  Sementara itu disisi lain, warga lokal mempunyai kekhawatiran terhadap patahan gempa ini. Rasa khawatir mengenai bencana alam yang akan timbul bisa menyebabkan kerusakan pada objek wisata tersebut. Hal ini diakui oleh Kris analisis BMKG “Kalau patahan itu bergeser maka akan terjadi gempa dan bisa saja menimbulkan tsunami di bibir pantai ini bahkan bisa saja longsor menimpa pemandian air panas karena lokasi ini sangat curam,” cemasnya. Selaras dengannya, kekhawatiranpun dirasakan oleh yang akrab disapa Febi jika ia takut kalau objek wisata sumber air panas ditutup. “Kalau sampai tutup keluarga saya mau makan apa?” katanya. 

   Terlepas dari keindahan yang dimiliki Pantai Pasir Putih Banyuwedang ini ternyata memiliki kekhawatiran pasalnya bencana mengintip dari keindahan pantai ini yang disatu sisi harta karun itu belum dikenal oleh masyarakat. (sa)