• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Jelajah Sepeda Bali Barat 2018

     Tjok Sintawati (15) dengan mata terpejam mengangkat kedua tanggannya keatas kening. Doa keluar dari bibir merahnya, meminta agar Sang Hyang Widhi Wasa melancarkan perjalanan untuk etape selanjutnya.

 

     “Perjalanan kali ini diselingi dengan Tirtha Yatra ke pura,” tuturnya setelah selesai sembahyang. Memasuki hari kedua, Jumat (12/01) Jelajah Sepeda Bali bagian Barat 2018, yang mengambil rute start Seririt – Gondol Bay ini melewati pura. “Arah menuju ke rute selanjutnya kebetulan melewati 1 pura yaitu Pura Pulaki, selagi disini kita akan singgah sebentar saja”. Ketika ditanya apa yang ia doakan, dengan sigap bibir kecilnya menuturkan agar semua peserta diberikan kelancaran dan kesehatan dalam menjalankan tugasnya.

     Ia pun kemudian memanggil Kadek Dwika Wahyudinata (16) yang sibuk melihat sekitarannya. “Disini viewnya indah soalnya langsung berhadapan ke laut,” katanya yang ingin mengeksplore pura yang disinggahinya. Pura pulaki yang terdapat di daerah Gondol bay ini selalu dijaga kebersihan lingkungannya. Hal ini diakui oleh Kadek Suardika selaku pegawai staf Pura Pulaki “Pura ini selalu dijaga kebersihannya karena pura ini adalah tempat suci yang hanya boleh di lakukan persembahyangan,” ucapnya. Senada dengannya Di Pura Pulaki ini tidak boleh sembarangan dimasuki bahkan oleh pemangku adat sekalipun. Tempat itu adalah pelinggih utama yang disebut dengan utamaning mandala. Hal ini diungkapkan oleh Jero Mangku Masta Selaku pengayah adat “ Demi menjaga kesuciannya pura ini harus terbebas dari pijakan kaki manusia,” ujarnya. Karena hal tersebut pura suci ini hanya digunakan pada acara tertentu saja seperti upacara maka pelinggih utama dibolehkan masuk.

    Sementara itu pura yang berdiri diatas tebing berbatu yang langsung menghadap ke laut dan latar belakangnya terbentang bukit terjal berbatu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. “ Ada beberapa turis yang datang ke pura ini hanya ingin mengetahui sejarah dan keindahan alamnya,” papar yang akrab disapa Suardika ketika diwawancarai.

     Tak hanya itu disekitaran pura pulaki ini terdapat populasi kera liar yang hidup di sini. “ Dari zaman dulu, populasi kera tidak bisa terhitung karena hidupnya itu liar,” lanjutnya. Karena kehidupannya liar, kera yang terdapat di pura ini mengundang kendala berjualan bagi pedagang disekitar Pura Pulaki, hal ini diakui oleh Agus Purwanto sebagai penjual kacang. “Sering sekali dagangan saya diambil kera liar disini,” keluhnya. Ia juga menambahkan kalau hal itu sudah biasa pasalnya itu adalah resiko berjualan di Pura Pulaki ini. “Saya sering digigit kera disini karena kera mengambil jualan saya tapi saya sudah ikhlas kalau rugi karena itu sudah resikonya,” tambahnya sembari tersenyum.

    Semua pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas akan mendapatkan hasil yang terbaik. Hal ini diakui oleh tim dokumentasi Pramudya (15) "Bisa dikatakan pekerjaan yang aku lakukan ini sebagai bentuk yadnya," ujarnya. Selaras dengannya, Widya Apsari juga membenarkan bahwa ia bersinggah ke pura itu sekaligus untuk yadnya, “Ya karena pekerjaan apapun yang kita lakukan dengan ikhlas pasti akan mendapatkan hasil yang baik pula,” katanya yang selagi memberikan minuman kepada para peserta jelajah sepeda. (sa)