• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Jelajah Sepeda Bali Barat 2018

Image and video hosting by TinyPic

 Kekayaan bahari Pantai Lovina menjadi surganya para nelayan. Namun kini erupsi Gunung Agung tengah melanda. Jukung para nelayan pun tak lagi penuh dengan ikan - ikan. Ada apa?

      Wajah Pak Ketut berseri. Rambut hitamnya mulai berterbangan ketika diterpa kerasnya angin Pantai Lovina sore tadi, Kamis (11/01). "Dulu saya mencari ikan dengan jukung (perahu) dari kayu sekarang sudah pakai mesin, ya berkembanglah karena ada wisata di Lovina," kata Ketut Pipil sembari berteduh di bawah pondok kayu itu.

    Ketut Pipil adalah warga asli Karangasem, yang memilih mengadu nasib di Lovina. Jikalau bulan mendukung, ia dapat melaut dua hingga tiga kali dalam seminggu. Akan tetapi, musim paceklik membuatnya banting stir, "Ya kalau mengandalkan nelayan saja gak bisa, terkadang saya mengantar tamu untuk nambah penghasilan," ujarnya. Namun pada kenyataannya Pak Ketut malah lebih dominan dalam pariwisata, "Jika ditanya kenapa, sudah pasti karena gak perlu modal dan berpenghasilan lebih cukup daripada nelayan yang hanya mengandalkan hasil tangkapan ikan," lanjutnya. Selayaknya hukum ekonomi, pekerjaan mana yang lebih menguntungkan itulah yang diunggulkan. Seperti halnya Pak Ketut, yang memilih menggeluti pariwisata dibandingkan menjadi seorang nelayan.

     Disisi lain, Komang Artana pun sependapat dengan Ketut Pipil. Artana yang notabene merupakan Staff Humas Badan Pengelola Pariwisata Kalibukbuk Lovina menuturkan bahwa perkembangan wisata Lovina sangat berdampak pesat bagi masyarakat sekitar. "Berkat lumba-lumba dan taman laut, kini Lovina menjadi destinasi wisata sebesar ini sehingga masyarakat pun punya mata pencaharian yang menjanjikan," ungkapnya lugas. 

     Akan tetapi, kini eksistensi lumba-lumba Lovina seolah memudar, ditengah Erupsi Gunung Agung. "Pengunjung menurun sangat drastis, terutama wisatawan mancanegara," tambah Artana. Hal serupa juga diakui Jero Mangku Gede Artana, "Bahkan saat natal dan tahun baru pun juga sepi, kalau begini kita hanya bisa menunggu". Ia pun menambahkan, "Bukan keinginan kita untuk menunggu, tapi berbalik ke sektor lain layaknya perikanan itu susah karena penghasilan tak sebanding dengan sektor pariwisata," tuturnya.

     Ketut Pipil yang notabene seorang nelayan tak menampik tanggapan Jero Mangku Gede, "Memang benar, apalagi modal melaut cukup besar untuk perlengkapan berlayar tetapi tak sebanding dengan hasilnya yang pas-pasan,” curhat Pak Ketut. Kini ia tengah ragu, tetapi jika masyarakat siap beralih dari sektor pariwisata bukan hal yang mustahilkan? (non)