• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

 Memilki tubuh yang mungil dan rambut hitam yang menjuntai, nampak seperti gadis lugu dan lemah lembut. Namun tak dapat dipungkiri gadis ini bergelut dengan serangkaian aksara bali di hidupnya.

     Ialah Ni Komang Milda Marsila Yanti, perempuan yang kerab disapa Milda ini telah menggeluti dunia aksara bali sejak usianya dini. Bukan tak beralasan, dari lingkunganlah ia mengenal aksara bali. Ibu yang berprofesi sebagai guru agama sekaligus Bahasa Bali menjadi dorongan untuk Milda kian menggali lebih dalam perihal aksara Bali. “Sudah dari kecil aku nulis-nulis aksara bali, semua berawal dari ibu yang notabene guru agama dan bahasa bali,” ujarnya saat ditemui (2/1) di depan kelas X-MIPA 4 SMAN 3 Denpasar.

     Gadis kelahiran Denpasar, 8 November 2001 ini mengaku sering mengikuti lomba berbasis menulis aksara bali. Namun, Milda tak menampik banyak pengalaman unik yang tak terlupakan dalam benaknya, saat lomba di Balai Bahasa salah satunya. Siswi kelas 10 itupun menambahkan bahwa lontar (media penulisan aksara-red) yang dilombakan tak berisi identitas berupa nama, tetapi ketentuan identitas yakni nomor peserta. Keteledoran Milda ternyata membawa petaka, lontar hasil guratan liuk tangannya tak beridentitas dan malahan tertukar dengan peserta no 9. "Aku salah buat nomer peserta di lontar seharusnya aku nomer 7 tapi aku buatnya nomer 9, bener-bener kesalahan fatal," sesalnya.

     Sesal Milda makin menjadi, manakala lontar yang tertukar itu berhasil memboyong Juara 1. Akan tetapi, karena nomor peserta tertukar ia sempat mengalami konflik dengan panitia. "Awalnya aku kira gak bakal dapet apa, tetapi ternyata lontarnya tertukar dengan juara 1, Astaga senangnya," ungkap Milda sembari tersenyum lebar. Tetapi, "Sempet ada masalah gitu, karena rebutin yang mana lontarku dan lontar peserta nomor sembilan," ungkap gadis asal Bangli ini. Namun, setelah dikonfirmasi ulang akhirnya tulisan aksara diatas lontar itu terbukti milik Milda. "Itu kecerobohan sekaligus pengalaman tak terlupakan untukku,” tambahnya.

     Meski di zaman serba canggih ini, Milda tak pernah luput dalam melestarikan budaya Bali, dengan menulis aksara Bali. Walaupun remaja seusianya kadang tak tertarik dengan tulisan Bali. Milda pun mengaku kegiatan yang berkaitan dengan aksara bali tidak pernah absen darinya. Ia kian tekun menggeluti bidang itu, meskipun yang lain beranggapan kegemarannya hal yang membosankan. Karena baginya, "Inilah kegemaranku, menulis aksara Bali. Entah apa kata orang, yang penting ini adalah aku dan aksaraku," tutupnya dengan lugas. (anj)

Pengunjung Lainnya

We have 52 guests and no members online