• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

 Berperawakan kecil dan memiliki kulit yang hitam manis, sepintas terlihat seperti perempuan Bali yang cerdas. Namun siapa yang mengira perempuan ini sering banting stir dalam memilih passionnya.

     Sering bimbang dalam mengambil keputusan membuat gadis yang bernama lengkap Ni Putu Sri Utami Dewi ini mendapat banyak pelajaran dalam hidupnya. Sempat banting stir dalam pilihan ekstra, dari awalnya mengikuti pramuka saat SD, paskibra saat SMP, dan pilihan terakhir yang mengesankan pada jurnalistik di SMA. Dari pilihan terakhir ini perempuan yang menyukai makanan korea ini mendapatkan banyak pembelajaran berharga yang sampai saat ini masih terlintas dibenaknya, dan menyadari bahwa passionnya ada dalam jurnalistik. “Pas SMA liat orasi dari ekstrakurikuler jurnalistik kok keren banget ya dibilang udah bisa nerbitin buku, dan karena suka baca buku kepikiran kayaknya keren kalo bisa nerbitin buku sendiri, akhirnya gabung dan dari sana emang banyak banget pengaruhnya,” kenangnya, saat ditemui pada (15/10) di Gedung Widya Padma di Politeknik Negeri Bali (PNB).

    Ami itulah nama yang sering akrab dipanggil ini juga menuturkan dirinya sering kali jatuh dalam mengikuti Jurnalistik di SMA nya dulu. Sempat beberapa kali mengalami pengalaman unik saat ikut lomba di bidang jurnalistik, pertama kali lomba dara yang menyukai warna biru ini menuturkan kejadiannya dengan nada yang tidak teratur karena mengingat kejadian itu kembali. “Awal lomba dalam jurnalistik, ikut lomba mading pertama di UNDIKSHA (Universitas Ganesha) karena tim paling akhir jadi gak ada persiapan apa-apa dan H-beberapa harinya nyari dosen malem malem, sampai mau nginep di rumah temen. Dan itu hal yang menarik ikut di jurnalistik.”

    Bagi Ami, ada tantangan tersendiri untuk mengikuti lomba jurnalistik. “Untuk lomba kedua itu paling nyesek lagi karena telat ngumpul dari yang namanya ada di atas turun paling bawah karena ada penurunan nilai telat ngumpul, dari pengalaman jatuhnya itu, terus ikut lomba Akademika akhirnya berhasil dapet juara 1 di UNUD,” kenangnya dengan bangga. Dari kepahitan yang dijalani tak menyurutkan semangatnya dalam mengikuti jurnalistik, justru ia mengaku sangat senang dapat mengambil pelajaran-pelajaran yang berharga yang pernah dialaminya, “Ya aku bisa belajar bahwa menjadi jurnalis itu tidak mudah, harus jujur dan akurat memberitakan data.” Dukungan dari orang-orang sekitar juga berpengaruh terutama pembina jurnalistiknya tokoh motivatornya yang juga menjadi orang yang selalu mendorong karirnya saat ini. Intinya, “Jurnalistik ini yang jadi jiwaku.” (anj)

Pengunjung Lainnya

We have 102 guests and no members online