• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Artikel

      Siapa yang berbuat salah, dialah yang menerima hukumannya. Negri kita kini telah diramaikan oleh orang orang berakhlak tidak terpuji. Mereka menjadi sorotan publik karena egonya. Dijebloskan ke belakang jeruji besi dengan berbagai macam alasan. Korupsi, utamanya. Dengan segala macam perbuatannya, Sang "penjahat" pantas diberi ganjaran berupa sanksi. Sanksi hukum, sudah jelas. Namun rupanya hal tersebut belum maksimal dalam menebus kesalahan kesalahan yang melanggar hukum.

    Pelanggaran pelanggaran yang mereka lakukan jauh lebih "jahat" daripada sanksi hukum yang diberikan. Negri kita membutuhkan hukuman yang lebih setimpal. Bukan hanya hukuman berdasarkan ketok palu, hukuman psikis dinilai tidak kalah ampuh untuk menundukkan pelaku. Disinilah terlihat absennya sanksi sosial di dalam masyarakat. 

    Sanksi sosial bertujuan untuk membuat malu si pelaku di tengah tengah masyarakat. Hal ini berarti keterlibatan masyarakat untuk menghukum kriminal sangat berpengaruh. Namun nyatanya, sanksi sosial malah tidak hadir meramaikan dunia hukum para koruptor. Mengapa? Salah satu Penyebabnya adalah masyarakat. Warga negara mengalami kemiskinan pengetahuan mengenai apa sanksi sosial tersebut dan bagaimana dampaknya terhadap sang pelaku kejahatan. Pengadilan memberikan hukuman yang dinilai belum memuaskan. Tetapi masyarakat hanya menonton. Keterlibatan masyarakat dalam membela yang benar hanya seperti biji kacang, kecil. Masyarakat yang dirugikan tidak tahu harus melakukan apa dan hanya pasrah kepada pengadilan yang kini jelas jelas tidak terlalu adil.

     Efeknya, para terdakwa tidak akan kapok untuk melakukan kejahatannya lagi. Mereka akan terus mencari kesempatan sedangkan masyarakat akan terus dirugikan. Tidak ada efek jera. Tidak ada henti hentinya. Hal ini juga memberi kesempatan bagi masyarakat untuk berbuat yang melanggar hukum. Negri kita akan semakin penuh dengan "sampah". Para tersangka akan memiliki wajah setebal tembok. Masih bisa menebar senyum dan berlagak seperti orang yang sama sekali tidak pantas disebut sebagai pelaku kriminal. Mereka jadi tidak mengenal rasa takut terhadap hukum. Mereka jadi tidak mengenal rasa malu. Kekuatan hukum menjadi melemah. Tidak lagi ditakuti oleh masyarakat. Tidak lagi mampu menggiring penduduk ke jalan kebaikan. 

      Agar negri kita ini terselamatkan, maka masyarakat perlu mengambil tidakan. Jika pengadilan tidak mampu makan kita yang harusnya bergerak. Sanksi sosial diberikan kepada terdakwa misalnya dengan memuat foto teranyar terdakwa sewaktu divonis, dipajang di televisi atau kalau perlu di jalan jalan protokol. Melibatkan media sosial juga merupakan jalan ampuh untuk menebar malu sang penjahat. Misalnya dengan mengunggah foto terdakwa dihiasi dengan kata kata yang menyindir tajam. Hal ini sekaligus menyalurkan aspirasi aspirasi masyarakat terkait kejahatan pelaku. Sanksi sosial sangat penting sebagai alternatif agar orang takut melakukan kejahatan karena dia dan kerabatnya akan dipermalukan.

(Oleh: Renita Jeniswari)

Pengunjung Lainnya

We have 109 guests and no members online