• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

 Memiliki kulit sawo matang dan berbadan tambun, membuat dirinya terlihat seperti pria pada umumnya. Namun siapa sangka pria asal Denpasar, Sesetan ini mampu sukses berwirausaha dengan seni dan mengembangkan, melestarikan dunia seni dalam wirausaha

    Berwirausaha di dalam seni, membuat orang-orang berpikir dua kali untuk melakukannya. Namun tidak dengan pria yang bernama lengkap Dr.Komang Indra Wirawan Ssn. M Fill H ini sukses menggeluti usaha keluarga di bidang seni. Kendati sukses menjalankan usaha di bidang seni terutama seni pementasan calonarang, yang banyak memiliki resiko pada saat menjalaninya karena bersifat seni dan magis. Namun resiko tersebut tidak membuatnya takut atau menampik pekerjaan itu, olehnya ia hanya bisa pasrah. “ Pasrah, itu aja konsepnya dan berdoa. Karena konteksnya ke seni, selama kita jalani dengan baik dan benar, pasrah aja. Apapun resiko yang terjadi sialnya celaka atau mati saat pentas itulah karmanya,” paparnya saat ditemui pada (25/10) di Gases Bali ini. Seni itu adalah karya yang menyampaikan sebuah pesan kebenaran, hal inilah yang diungkapkan oleh Ketua yayasan Gases ini. Sukses berwirausaha di dalam seni pementasan calonarang, tak menutup kemungkinan adanya kekecewaan dan kesulitan pada saat pementasan. “ Kekecewaan dalam pribadi saat seharusnya porsi pementasaan ada yang lebih atau kurang, bahkan ingin buat lucu jadi tidak lucu ataupun mau buat seram jadi tidak kelihatan seram.

     Kesulitan saat pementasaan yang pastinya ada seperti harus menyiapkan segala sesuatunya dengan matang,” ujarnya dengan nada lembut. Di balik kekecewaan dan kesulitan itu dirinya mengaku sangat senang saat dapat menjadi junior yang berkesempatan menari dan berinteraksi dengan seniman senior. Dan pria yang menyukai warna Hitam ini juga memiliki pengalaman yang unik saat mengajar, dosen ini memiliki pengajaran yang berbeda dari dosen lainnya. Saat semua dosen mengembangkan materi, dirinya langsung pada praktek dengan menugaskan menari langsung di kuburan dengan jam yang tidak lazim untuk membuat film dokumenter, itu hal yang paling mengesankan dan unik menurutku,” curhat pria kelahiran 17 Januari 1984 ini mengenang kejadian itu. (anj)

Pengunjung Lainnya

We have 166 guests and no members online