• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Artikel

Seiring berjalannya waktu budaya semakin dikesampingkan, tercermin dari minimnya minat masyarakat untuk melestarikan budaya.

      Dikutip dari buku Koentjaraningrat, budaya mencakup teknologi, sosial, pengetahuan, bahasa, sistem mata pencaharian, dan seni.. Keragaman budaya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Banyaknya wisatawan yang tertarik akan budaya menjadi suatu peluang pemanfaatan budaya untuk berwirausaha. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor berkembangnya wirausaha seni budaya.

      Berkembangnya wirausaha seni budaya diharapkan mampu melestarikan budaya melalui penjualan produk hasil budaya. Namun sangat disayangkan, pelestarian budaya dengan berwirausaha belum dapat berjalan maksimal. Ada dua analisis untuk menafsirkan akar dari permasalahan ini. Pertama, minimnya dasar wirausaha yang dimiliki. Tercermin dari kinerja wirausaha seni budaya yang belum profesional. Ditambah lagi, banyaknya wirausaha seni budaya yang merintis usahanya atas dasar ikut-ikutan. Ikut merintis usaha yang sedang menjamur, bukannya melihat peluang usaha yang belum dijamah.

     Wirausaha seni budaya yang sebagian besar hanya menjalankan usahanya semata-mata demi meraup keuntungan tanpa mengindahkan nilai-nilai budaya. Hanya sekadar berwirausaha tanpa mengetahui makna dari wirausahanya. Kedua, peran masyarakat pula sangat diperlukan untuk pelestarian budaya. Sangat disayangkan, minat masyarakat sangat minim untuk berkontribusi bagi pelestarian budaya. Masyarakat dirasa semakin gengsi untuk melakukan pelestarian budaya. Dengan kata lain ‘ogah-ogahan’ untuk melakukan melestarikan budaya sendiri karena dirasa kurang menarik dan terkesan ketinggalan zaman. Ditambah lagi, mindset masyarakat yang merasa banyak pekerjaan yang lebih layak dari melestarikan budaya. Terbukti dari banyaknya pekerja wirausaha seni budaya yang berasal dari luar daerah ketimbang masyarakat lokal.

      Meskipun kini telah berkembang wirausaha budaya yang dapat dikatakan secara tidak langsung melakukan pelestarian budaya. Nyatanya, wirausaha seni budaya masih dirasa kurang maksimal untuk melestarian budaya. Lemahnya pelestarian budaya pun berdampak pada hilangnya daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Hal ini juga mampu meredupkan sektor pariwisata. Bahkan, dikhawatirkan budaya dialih tangankan kepemilikannya.

     Beranjak dari kenyataan tersebut, untuk merintis suatu wirausaha budaya diperlukan pula penanaman dasar-dasar berwirausaha. Seorang wirausahawan harus memiliki bekal dasar-dasar berwirausaha, tak hanya mengandalkan bakat dan rasa saja. Dikarenakan ilmu wirausaha bukanlah hal yang tabu untuk dipelajari. Antara bakat serta kewirausahaan harus berkesinambungan. Niscaya wirausaha seni budyaa mampu berkembang dan secara tidak langsung efektif melestarikan budaya. Disatu sisi, berwirausaha seni budaya bukan sekadar membuat, lalu menjual produk seni budaya. Tetapi, mendalami nilai-nilai serta makna dari seni budaya, sebab itulah arti sesungguhnya dari ‘melestarikan budaya’. (pey)

 

 

 

Pengunjung Lainnya

We have 224 guests and no members online