• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Image and video hosting by TinyPic

 "Masyarakat harus jeli, jangan tertinggal, apalagi termakan zaman," tutur lelaki paruh baya, I Gede Anom Ranuara, manakala menyinggung pijakan budaya. Yang tak dapat mengelak pada perubahan, akibat modernisasi.

      Budaya, kian tergelincir arus zaman. Akan tetapi, pelestarian pun tetap digalakkan, inilah yang diakui I Gede Anom Ranuara (50). Budayawan Kota Denpasar ini, berdalih penjualan produk budaya dengan berwirausaha, secara tidak langsung ampuh menjadi pemecah masalah. "Melalui produk budaya, jangan salah, ini yang paling efektif melestarikan budaya," ungkapnya ketika diwawancarai Selasa(23/10).

     Keterangan yang diberikan Anom selaras dengan kondisi kawasan Celuk. Tengok saja, usaha Made Wira Widiana(51). Ia mengaku perak Bali tidak akan eksis layaknya kini, bila tak ada Celuk. "Kalau Celuk tidak produksi perak, sejak dulu perak ini sudah tenggelam," ujar pemilik Onno Silver ini. Dua puluh tahun silam, Onno Silver berdiri di desa pusat kerajianan perak dan emas itu, baginya telah efektif menjaga eksistensi budaya Bali. Namun, kini, ia pun harus gigit jari akibat pergolakan pangsa pasar perak. Lebih-lebih, pelanggan yang memesan mendadak membatalkan. Bahkan, "Jika bahan baku perak melambung, harga perak pun ikut tinggi. Usaha saya sempat 3 bulanan gak ada orderan, " tuturnya sembari mengerutkan alis. Pernah terbersit dibenak, untuk banting stir ke usaha lain. Ia merasa hal itu perlu, tetapi belum terlaksana, karena takut tak balik modal dan malah berakhir gulung tikar.

      Hal ini pun ditampik tegas Anom Ranuara. Ia berterus terang, "Memang wirausaha budaya sudah bergerak, tetapi karena mereka takut keluar zona nyaman dan kukuh terhadap produk sendiri malah berdampak pada tidak maksimal pada usaha dan pelestarian budaya itu sendiri," tegasnya. Baginya, pengembangan terhadap produk dianggap penting, perlu ada sinergitas antara wirausaha dan budaya. Namun, berbanding terbalik dengan realita, antara wirausaha dan budaya justru saling menunggu. Menunggu produknya dicari bukannya berinovasi,bak menanti uang datang sendiri. Hal ini membuat lelaki yang kerap dipanggil Guru Anom ini, berkacak pinggang.

     Namun, hal ini justru dibantah Widiana, "Kita kan gak bisa ngatur harga perak, kalau harga tinggi ya mengandalkan stok yang ada, dari pada merugi," jelasnya. Permasalahan serupa dialami I Ketut Pulig (53), perintis usaha pelinggih, sepanjang Jalan Ida Bagus Mantra. "Ramainya terkadang 2 bulan sebelum Galungan, setelahnya pembeli berangsur sepi," kenang pria asal Taro, Gianyar ini. Tahun 1999 menjadi tonggak awal usaha pelinggihnya, Arca Dewata. Lambat laun, usaha pelinggih kian menjamur dari Jalan Ida Bagus Mantra hingga Ketewel, persaingan pun terbentuk. Kendati demikian, "Saya tidak merasa tersaingi, malah kerjasama karena masih lingkup keluarga. Misalkan gak ada sanggah, saya ambil ditempat di toko sebelah, ya nanti tinggal ganti atau bayar harga pokoknya," papar Ketut.

    Widiana dan Ketut Pulig tampak memiliki kesepadanan, keduanya otodidak berwirausaha budaya berlandaskan kebutuhan hidup. Akan tetapi, Cokorda Gede Putra Yudistira, SE., MM., justru berkata sebaliknya. Menurutnya dasar kewirausahaan diperlukan, agar nanti wirausahawan mampu mengembangkan usahanya lebih maksimal. "Berbeda hasilnya jika dia sudah punya bakat tetapi tidak tahu ilmunya. Usahanya akan tidak maksimal, memang menghasilkan laba tetapi tidak optimum," ujar dosen program studi managemen bisnis internasional, Politeknik Negeri Bali ini. Bahkan, "Pengembangannya usahanya pun kurang berjalan baik. Dia akan kalah bersaing dengan usaha lain yang rajin mengembangkan produk," tambahnya lugas.

      Disisi lain, Guru Anom tak menampik tanggapan Cokorda Yudistira. Sebab, cukup sulit untuk menyelaraskan wirausaha dan budaya. Pasalnya, sinergi dalam berwirausaha budaya masih 'mentok', belum tertata, baik dari segi perencanaan, strategi hingga sikap profesional terkadang malah sekadar 'ikut-ikutan' trend. "Sinergi Ini yang kurang, sehingga pelestarian budaya dengan berwirausaha belum maksimal. Bahkan belum mencapai 50%," paparnya. Ujungnya, semua kembali pada sinergitas. Sekarang, Guru Anom tengah ragu, tetapi jika wirausaha mampu, mencapai 100% pun bukan hal mustahil. (non)

Pengunjung Lainnya

We have 202 guests and no members online