• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Artikel

“Coba lihat deh, media A bilang Gunung Agung sudah akan meletus. Tapi lihat media B, bilang masih lama. Lalu siapa yang benar?! Jadi bingung…”

    Begitulah fenomena yang sempat hangat diperbincangkan masyarakat Bali. Contoh tersebut mencerminkan, kecanggihan teknologi tak dapat dipungkiri juga berdampak pada derasnya arus informasi. Tak ubah layaknya kembang gula, informasi sangat mudah digenggam oleh masyarakat. Ketika informasi yang up-to-date semakin digandrungi masyarakat, pihak media massa penyedia berita juga ikut berkompetisi bak hewan di musim kawin menarik perhatian khalayak akan karyanya.

    Sayangnya, kecepatan akses informasi justru bagai pisau bermata dua. Tanpa disadari, keinginan masyarakat untuk mendapatkan informasi dengan cepat justru menjadi peluang merebaknya berita bohong (hoax). Berdasarkan data yang dipaparkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut ada sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu dan ujaran kebencian (hate speech). Fakta ini menunjukan bahwa di sekeliling masyarakat, hoax justru bertebaran. Layaknya mencari jarum dalam jerami, informasi yang kredibel sangat sulit didapatkan.

    Hoax seakan menjadi potret media massa masa kini. Bukan hanya sekadar ‘potret’, bahkan juga ‘identitas’. Ada 2 (dua) spekulasi untuk menafsirkan akar dari problematika ini. Pertama, beberapa media massa yang memang tidak memegang teguh idealisme pers dengan sengaja menyebarkan hoax sebagai pemantik kontroversi demi rating tinggi. Padahal kebenaran dalam berita adalah hal mutlak yang tak dapat ditawar.

    Kedua, ketika target pemberitaan yang hanya jadi pacuan bagi media massa. Tak ubahnya bagai orang bijak terdesak untuk maling, ‘target’ akan sangat mudah membuat orang jadi kalut. Tanpa disadari, insan jurnalis ketika dikejar target mengonfirmasi kebenaran fakta hanya pada satu-dua narasumber saja. Ketika sajian tak dapat dipertanggungjawabkan, hal tersebutlah yang menjadi hoax.

     Perilaku tersebut jelas tidak mencerminkan fungsi media massa kepada masyarakat sebagai media informasi, edukasi, komunikasi, hiburan, dan kontrol sosial. Sikap media massa kini yang cenderung cepat namun tidak akurat dikhawatirkan berdampak pada masyarakat. Simpang-siurnya informasi produk dari media massa akan menimbulkan kegamangan di masyarakat. Masyarakat tak ubah layaknya mobil juga memerlukan kemudi. Mobil itu rentan rusak, apabila tidak dikemudikan dengan baik. Sangat disayangkan, akibatnya media massa kini dianggap jadi ladang keributan.

      Ketika situasi makin keruh akibat buruknya potret media massa kini, pemegang kendali harus ada di tangan rakyat. Solusinya, kejengahan masyarakat sangat diperlukan untuk menyaring informasi sesuai kebutuhan. Modalnya sederhana, hati dan pikiran yang jernih tentu akan memudahkan masyarakat menanggapi segala permasalahan yang ada. Sejatinya, masyarakat adalah rajanya. Sehingga ketika media massa kini tengah melinu, masyarakat diharapkan juga tidak ikut melindu. (smy)

Pengunjung Lainnya

We have 66 guests and no members online