• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Tajuk

Image and video hosting by TinyPicBanyaknya media massa yang melupakan jati diri sebagai lidah penyambung aspirasi rakyat, membuat informasi yang ditatar hanyalah sebatas fiktif.

     Kasus Bali Post di tahun 2011 silam yang meruncing pada ranah hukum menjadi satu kenyataan yang menggelitik. "Gubernur: Bubarkan Saja Desa Pakraman" merupakan judul warta mencekik yang membuat masyarakat paling mencari ruang untuk bernafas. Pemberitaan yang berbuntut hukum ini memang menyesatkan masyarakat. Pasalnya dari keterangan saksi yang berada di lokasi kejadian, penuturan Gubernur Bali berbeda dengan berita yang dihasilkan. Alhasil, akurasi dari berita ini jadi diragukan dan menimbulkan keresahan pada masyarakat Bali.

     Padahal, jelas-jelas telah diamanatkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 1999 tentang pers, pada pasal 6 butir ketiga yang berbunyi “mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar,” tak diindahkan oleh media massa kini. Tepat, akurat, dan benar hanyalah menjadi sebuah angan. Media massa di masa kini mulai berbelok guna mengejar kecepatan. Berbelok dari akurasi membikin berang kondisi kehidupan sebuah bangsa. Akurasi sebuah berita mesti lengket dengan detail, fakta, dan data.

     Media massa seolah kewalahan, kala berjibun peristiwa yang datang silih berganti tak dapat diramu seutuhnya. Kompetisi jurnalis antara waktu dengan kemampuan menjadi kendala untuk menyeimbangkan akurasi dengan kecepatan. Cepat dan tak akurat menjadi potret media masa kini. Maka, redaksi percaya bahwa akurat harus menjadi pegangan utama media massa dalam menyampaikan setiap wartanya.

    Sudah menjadi kewajiban bahwa media massa bertanggung jawab kepada publik dan hati nurani. Tanggung jawab ini memiliki arti yang mendalam. Ini berarti tanggung jawab kepada Tuhan bagi mereka yang beragama. Jadi, bila media massa mulai meninggalkan akurasi itu sama dengan mereka melupakan tanggung jawab mereka akan Tuhan. Berlomba-lomba menjadi yang tercepat bukanlah yang diharapkan masyarakat Indonesia. Media yang diibaratkan bak lidah penyambung aspirasi, sudah sepantasnya membuat rakyat tahu perihal sedetail-detailnya dan kebenaran terhadap persoalan di negeri ini. 

   Metode sederhana triple check, haruslah dipegang kukuh guna menggali kebenaran. Dengan menegakkan kebenaran, media massa senantiasa memperoleh kepercayaan masyarakat (kredibilitas). Fatalnya, sekali saja media massa melakukan kesalahan akibatnya ia akan kehilangan kredibilitas. Sehingga untuk mendapatkan kredibilitas itu kembali sangatlah sulit. Karenanya, sebuah media harus meningkatkan skill (kemampuan) dan profesionalitas yakni kode etik jurnalistik itu sendiri. Apabila keduanya sudah berimbang, niscaya media pun dapat tampil dengan detail, tanpa harus khawatir akan terkulai.

Pengunjung Lainnya

We have 87 guests and no members online