• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Image and video hosting by TinyPic

 Berjibun handphone menerjangnya, namun kala ditanya soal potret media masa kini, semangatnya pun membuncah untuk bertutur.

       Sosoknya yang bersahaja menuturkan betapa mirisnya keadaan media massa kini, potret media yang mulai menggugurkan daun-daun akurasi yang membuat masyarakat khawatir. “Kecepatan ini menjadi persoalan, kecepatan akan mempengaruhi akurasi dan proses-proses jurnalisme itu sendiri,” tutur Yoyo Raharyo. Pria yang telah lama melintang dalam dunia jurnalistik ini menuturkan bahwa berbagai persoalan yang diangkat tidak mutlak harus cepat. Baginya akurasi jauh lebih penting karena menyangkut masyarakat umum yang haus akan informasi teranyar. Kewajiban media massa telah tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 tahun 1999 tentang pers, pada pasal 6 butir ketiga yang berbunyi “mengembangkan pendapat umum berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar,” mulai tak diindahkan oleh media masa kini di Indonesia.

     Membidik pada persoalan, media masa sungguh sulit menyatukan apa yang dinamakan kecepatan dengan akurasi, menurut Yoyo terjadi karena beberapa faktor. “Ketidak tahuan jurnlisnya, malas, kesulitan dalam prakteknya seperti narasumber yang sulit dihubungi itu menjadi bahayanya,” papar Yoyo. Sehingga dengan berkutat pada persoalan, fakta pun menjadi dilupakan, sehingga media pun gigit jari dan mengharuskan untuk mengarang indah. “Ya jadinya mengarang indah, karena minim investigas,” sambung Yoyo kembali.

    Keterangan Yoyo pun selaras dengan data dari Dewan Pers Indonesia, bahwa sepanjang 2012 terdapat 500 lebih kasus terkait pengaduan masyarakat terhadap media massa. Dari jumlah itu, 328 diantaranya media cetak dan 98 pengaduan terkait media online. Pengaduan masyarakat tak lain diakibatkan oleh minimnya akurasi dari berita yang dijajakan pada publik. Media massa seolah kewalahan, manakala waktu yang hanya berkutat pada 24 jam sehari tak cukup untuk merangkum kebenaran dari sekian banyak peristiwa. Apalagi dengan latar belakang yang berbeda, seperti ekonomi, sosial, politik, dan bejubel persoalan lainnya.

      Pernyataaan berbeda datang dari I Wayan Widiyantara, bagi pria yang berprofesi sebagai jurnalis ini media masa bisa untuk mengawinkan kecepatan dengan akurasi. “Siapa pemilik media itu, menjadi jawaban atas apa sebenarnya yang dikejar dalam media itu sendiri,” ujarnya. Pemilik media yang menentukan target, apakah cepat atau akurat yang dipilih, yang mengisyaratkan bahwa media massa juga memiliki kepentingan tertentu sehingga sulit untuk menyatukan antara kecepatan dan akurasi.

     Ia pun kembali menuturkan bahwa dengan hanya mengejar kecepatan tak menutup kemungkinan media bersangkutan akan kesulitan mengejar kredibilitasnya di mata masyarakat. “Kalau cepat saja itu informasi namanya, tapi kalau dibarengi dengan akurat, baru bisa dikatakan sebuah berita,” tuturnya dengan menggebu-gebu. Pria yang setiap harinya bergutat pada berita ini mengungkapkan bahwa akan sangat fatal apabila akurasi dikalahkan oleh kecepatan. “Setiap hari saya mencetak 15 ribu eksemplar surat kabar, kalau saya utamakan cepat tapi tidak akurat nanti saya akan membohongi 15 ribu orang yang membaca surat kabar saya,” paparnya dengan penuh semangat.

    Ni Putu Sri Utami Dewi justru mengungkapkan bahwa media massa harus bisa menyatukan kecepatan dan keakuratan. “Mau tidak mau, media itu harus bisa menyatukan keduanya (cepat dan akurat),” ujarnya. Wanita yang menjabat selaku Kepala Divisi Berita UKM Jurnalistik Politeknik Negeri Bali ini pun juga tak menampik bahwa cukup sulit untuk menyeimbangkan kecepatan dengan akurasi. Pasalnya, tak sedikit media yang ditemuinya hanya menyuguhkan informasi yang ‘sekedar’ dan memababat apa yang menjadi unsur-unsur berita dan kode etik jurnalistik.

   Ujungnya, semua akan kembali pada sinergitas. Utamanya, bagaimana media massa bisa meningkatkan kualitas diri dan masyarakat pun pula terlibat dalam memilah informasi. Karena media dapat tergelincir begitu saja dengan keterbatasanya. Dan masyarakat pun juga dapat tergelincir tanpa kecerdasannya. (kyu) 

Pengunjung Lainnya

We have 104 guests and no members online