• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

 “Jangan gengsi jadi diri sendiri, apa adanya aja,” kalimat itu meluncur dari bibir mantan petinju I Wayan Agus Setiawan, saat mengenang pijakan yang menjadi keyakinannya hingga kini.

     Jaket abu, kaos oblong dan celana pendek menjadi kombinasi apik saat ditemui dikediamannya pada Minggu (08/10). “Lebih cocok ‘gelandangan’ daripada pebisnis ya,” jenaka ayah empat anak ini sembari tertawa. Agus Setiawan (46) begitulah nama panggilannya. Di balik gurauan yang terlontar, terselubung jejak yang tertinggal di tanah kelahirannya, Peguyangan.

    Jejak itu dipijakinya ketika melihat penghasilan orang tua yang tak seberapa. Lantas, menyulutkan hasrat pria yang akrab disapa Pak Yan ini untuk berubah. “Kondisi ekonomi waktu itu gak maksimal, kemudian saya memutuskan berhenti kuliah dan fokus membangun usaha,” kenang alumnus SMA Perintis ini.

     Naas memang ‘mogok’ mengeyam perkuliahan. Namun, ‘mogok’ justru menempa suami dari Anak Agung Ayu Putu Kartini ini cekatan melihat peluang. Kolam pancing ikan warisan orang tua, ia ‘sulap’ menjadi sebuah usaha, Warung Mina. Berbekal konsisten dan totalitas, mengobarkan semangat Pak Yan membesarkan warung ‘pojok’ sawah itu. “Saya yakin suatu saat tempat ini akan terkenal dan dicari banyak orang,” dengan sorot mata tajam. Berangkat dari keyakinan mengukuhkan tekadnya untuk mencicipi makna ‘kesuksesan

      Akan tetapi, jalan suksesnya penuh kerikil. “Susahnya itu ketika mulai membangun kepercayaan konsumen,” tutur ayah empat anak ini . Lebih-lebih, gulung tikar pun pernah melanda bisnis kulinernya. “Kalau bangkrut ya bangkit lagi, jangan baru jatuh sekali langsung pindah haluan buka usaha lain,” tegas pria kelahiran 18 Agustus 1971 ini.

     Pindah haluan bukanlah gaya Agus Setiawan. Ketika wirausahawan lain memilih menyerah pada proses, pria berzodiak leo ini tetap berpegang pada prinsipnya, konsisten. Sukses perlu waktu untuk berproses. “Semua perlu proses gak ada yang namanya instan,” ujar pria berambut panjang itu.

     Jerih payah akhirnya berbuah manis. Kini, warung bekas kolam ikan telah berevolusi menjadi rumah makan hits. Terbukti, Warung Mina yang dulunya berpusat di Peguyangan, sekarang mampu mengepakkan sayapnya. “Sekarang ada 13 warung mina ditambah usaha hotel dan kayu yang saya kelola,” ungkap si sulung empat bersaudara ini.

     Bermula dari bisnis kuliner, bahkan sekarang merekah hingga membuka hotel selayaknya pembisnis ‘ulung’. Kendati telah mencapai puncak menara, Pak Yan tetap teguh pada pijakannya dulu. Masih ‘apa adanya’ dalam balutan sederhana. (non)

Pengunjung Lainnya

We have 88 guests and no members online