• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Image and video hosting by TinyPic

 Semula lengang, namun siswa laki-laki itu lekas berucap,“apakah kontribusi pers hanya berupa pemberitaan? Tidakkah pers mengikuti perkembangan suatu usaha?” tanya Bagus Perana, Sabtu(7/10).

      Pertanyaan itu mendapat reaksi tegas Rofiki Hasan, Wartawan Tempo, dalam perbincangannya di Kubu Kopi sore itu. “Gak mungkin melakukan itu, toh tidak ada kebijakan mengharuskan demikian. Diberitakan saja sudah bagus,” ujar Rofiqi disertai tawa kecil diujung  kalimat. Ia mengatakan, pers hanya mampu turut campur dalam pemberitaan saja, namun tak jamin gerakkan masyarakat untuk berkontribusi dalam kewirausahaan.

     Posisi media cetak yang juga semakin terjepit, hampir mati ditengah derasnya perkembangan media digital membikin rasa pesimis muncul. “Kalau pers terlalu idealis membantu yang kecil saja ya gak bisa. Paling yang bisa Kompas, Bisnis Indonesia, karena sudah menjadi raksasa,” paparya.  Kendati demikian, “Paling dia juga males-malesan ngapain ngurusin gitu gak ada duit,” kilahnya.

    “Pers, Media Bisnis Indonesia itu mampu berperan di wirausahaan,” sergah wartawan Bisnis Indonesia spesialis berita keuangan negara, Ashari Purwo. Keputusan untuk bantu kelangsungan bisnis Coco Mart disampaikan wartawan media Bisnis Indonesia, Feri Kristiano dalam diskusi di kantor Media Bisnis Indonesia, Denpasar, Senin (9/10). Feri yang didampingi Ashari berikan gambaran kontribusi pers dalam kewirausahaan. 

     “Awalnya kita mencari usaha yang memiliki potensi, wawancara, dan saya temukan Coco Mart,” aku Feri. Dimana Coco Mart sebelumnya adalah usaha mikro kecil menengah (UMKM). Dia ingin menjadi perusahaan terbuka (bursa yang sahamnya bisa dimiliki banyak orang.-red) melalui pasar modal. Sebab terganjal khawatir: akan kehilangan perusahaan bila meminjam dana ratusan miliar pada bank, kelak. “Dia hanya jual sahamnya 30 persen saja” jelas wartawan itu. Dalam diskusi tersebut pula dibahas Media Bisnis Indonesia  menghubungkan Coco Mart dengan Bursa Efek Indonesia yang berdomisili di Bali. Tidak hanya itu, pihak pers juga membangun kinerja Coco Mart melaui pemberitaan berkala. “Soal kinerja, keunikan perusahaan itu, modelnya seperti itu sih pemberitannya. Jadi kita lebih menunjukan bahwa ini lho ada, perusahaan kayak gini” kenangnya. Hingga, “Lama-kelaman, tau-taunya ada perusahaan sekuritas (perusaan penjamin) yang  membantu keberlangsungan usaha itu,” tambahnya. Bahkan dengan seringnya bergelut dalam hal tersebut membikin ia mengerti,  “Keterlibatan pers dalam kegiatan wirausaha itu saling melengkapi,” gugat Feri. 

     “Kadang kala pers hanya melirik perusahaan besar saja, ya yang kecil cuma bisa nunggu,” keluh I Nyoman Ardiana, pemilik usaha gym. Berawal dari pegawai toko penjual alat-alat fitness hingga buka usaha sendiri bukan senang, ada prosesnya. Peluangnya kala itu mencuat ketika ia membaca koran yang memberitakan keberadaan usaha gym masih minim. Maka dari sanalah usaha tersebut dirintis dan berkembang. Lebih-lebih, “Ada member seorang wartawan, nah sekalian aja minta promosiin,” ujar pembisnis gym itu. Oleh sebab promosi tersebut, ia mengatakan usahanya ramai member, kini. “Suatu keberuntungan rasanya usaha kecil sempat diberitakan, mesti harus nunggu beberwapa waktu,” terangnya.   

     Secara terpisah, Dosen Ekonomi Politeknik Negeri Bali, Dr. Gede Santanu SE, MM mengatakan pers memiliki fungsi sebagai media edukasi. Artinya bahwa sumber-sumber informasi yang diberikan pers kepada wirausahawan bersifat inovatif dan edukatif. “Pers harus selalu mengupdate dan memberikan informasi terbaru terlebih soal kewirausahaan” ujarnya ketika paparkan tips jitu agar pers dengan wirausaha jalin kerjasama. Sebab dimasa mendatang kewirausahaan menjadi lumbung perekonomian potensial bagi Nusantara. “Mungkin, cara media memainkan perannya berbeda, namun tujuannya pasti sama,” tutupnya lugas. (cy)

Pengunjung Lainnya

We have 120 guests and no members online