• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Khusus

Image and video hosting by TinyPic

 “Timpal-timpal nyak jani meplalian?” ujar seorang gadis belia yang memecah suasana, gelak tawa penonton pun tak dapat terelakkan (21/9)

    Sejak pukul 16.00 wita, baik tua maupun muda telah memenuhi Kalangan Angsoka Taman Budaya, Art Center. Riuh rendah teriak penonton diiringi gemuruh tepuk tangan menjadi sambutan meriah bagi para penari Cilinaya yang ditarikan oleh anak-anak TK Kartika VII- 14. “Seledet pong” mengibaratkan visualisasi dari tajamnya lirikan mata para penari. Meski masih belia, mereka sanggup menampilkan tarian ini dengan elok. 

     Penampilan Maplalian Manten-Mantenan menjadi penampilan kedua yang dipersembahkan TK Kartika VII- 14. Sosok gadis kecil yang keluar pertama dari balik panggung, mengundang tepuk tangan meriah dari penonton. Ia yang terkadang tampak melucu dan kadang pula grogi, mengundang gelak tawa yang tak dapat dibendung. Riuhnya suasana semakin terasa, manakala kawan-kawan dari si gadis itu hadir meramaikan panggung dan mulai memainkam Manten-Mantenan. Permainan unik ini dimainkan dengan cara mengikatkan benang pada kaki sepasang anak laki-laki dan perempuan sebagai simbol manten (ikatan pernikahan-red). “Karena jarang diketahui orang, jadi kami sengaja memilih manten-mantenan ini untuk memperkenalkannya pada masyatakat,” tutur Putu Laksmi selaku Kepala Sekolah TK Kartika VII- 14. Wanita yang telah menjabat sejak tahun 2009 ini, tak menampik bahwa ada beberapa kesalahan yang dilakukan anak didiknya. Selaku penanggung jawab, ia memaklumi bahwa anak-anak pada dasarnya tidak bisa dipaksa dan ia merasa bangga melihat anak didiknya dapat tampil dengan natural.

     Tak jauh berbeda dengan TK Kartika VII- 14, TK Kristen Harapan juga menampilkan pementasan yang tak kalah menghibur. Tari Puspanjali yang hadir sebagai pembuka, menjadi hiburan tersendiri bagi halayak yang hadir. Penampilan selanjutnya dilanjutkan oleh Tari Condong, Tari Janger, Tari Gopala, dan Dolanan Siap-Siap Biing. Saat penamlilan Tari Janger, hiasan ikat pinggang salah satu penari terlepas. Sontak seluruh penonton hening dan salah seorang guru berinisiatif untuk memghampiri bocah laki-laki itu. Selain sabuk, gelungan (hiasan kepala-red) seorang gadis nyaris terlepas. Meski demikian, mereka yang tergolong masih sangat belia tetap melanjutkan pementasan dengan performa terbaik. Kelima penampilan yang disuguhkan, yang paling menonjol tentunya adalah Dolanan Siap-Siap Biing. Penampilan yang telah disiapkan kurang lebih selama 2 bulan ini, benar-benar menghibur penonton. Sontak gelak tawa kembali hadir, saat seorang gadis yang berlakon menjadi kapten, sangatlah lihai dalam berbahasa Bali. Suaranya yang nyaring dan lugas, siap membimbing teman-teman lainnya untuk menampilkan Dolanan Siap-Siap Biing. 

     Selaku Kepala Sekolah TK Kristen Harapan, Ni Made Realita Adnyana, sangatlah kagum dengan penampilan yang dipersembahkan putra-putrinya. Pasalnya, Taman Kanak-Kanak yang beralamat di Jalan Raya Sesetan ini, putra-putrinya terdiri dari berbagai etnis. “Dengan adanya Nawanatya ini mereka bisa belajar, walaupun dari berbagai suku ya ada yang chinese, ada dari Jakarta, anak-anak jadi bisa menari, menyanyi, dan khususnya berbahasa Bali,” paparnya lantang. Yang tak terduga dari Dolanan Siap-Siap Biing adalah, seorang anak yang berperan menjadi kapten nyatanya adalah keturunan Warga Negara Asing India. “Papanya Lila (kapten dolanan-red) kebetulan WNA, jadi kaget juga kalau Lila terpilih dan fasih berbahasa Bali,” ujar Kadek Sriladiani. Tak jauh dari sebelumnya, Ni Made Realita Adnyana mengharapkan agar anak didiknya senantiasa ajeg melestarikan budaya Bali. “Karena kita tinggal di Bali, kita harus melestarikan budaya Bali,” tutupnya tegas. (kyu)

Pengunjung Lainnya

We have 116 guests and no members online