• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Tajuk

Hanya bermodalkan dengan sosial media, masyarakat dapat mengakses informasi terkini mengenai Gunung Agung.Tetapi, haruskah masyarakat memercayai informasi tersebut?

       Beberapa remaja terlihat berlalu lalang di beberapa titik lampu lalu lintas sekitaran Kota Denpasar. Memakai pakaian adat ringan, membawa sebuah kotak kardus dan mulai menyumbangkan suara mereka ditemani alunan gitar kecil yang merdu. Meminta sedikit kesukarelaan bagi para pengemudi yang menanti hijaunya nyala lampu. Bukan tak beralasan, kegiatan tersebut dilakukan demi mengumpulkan sedikit rupiah untuk para saudara yang tengah mengungsi akibat aktivitas Gunung Agung yang kian meningkat.

      Peningkatan kondisi terkini Gunung Agung dari waspada menuju awas, membuat para penduduk disekitarnya menjadi gusar. Terlebih melihat tanda-tanda seperti gempa yang terjadi terus menerus, mulai membentuk kekahwatiran di benak masyarakat, dan memilih mengungsi sebagai salah satu cara menyelamatkan diri dari zona bahaya. Hal tersebut mengingatkan kembali pada peristiwa tahun 1963, ketika Gunung Agung meletus dengan dasyatnya dan mengakibatkan Bali tiba-tiba gelap dan seluruh kawasan tertutup abu. Erupsi kala itu menghabiskan waktu hampir selama setahun, terhitung mulai tanggal 18 Februari 1963 hingga 27 Januari 1964 (berakhir).
     Peristiwa ini tentunya menjadi luka teramat membekas bagi masyarakat Bali khususnya daerah sekitaran Gunung Agung. Tercatat 1.500 lebih korban tewas akibat letusan terakhir gunung tertinggi di Pulau Dewata tersebut. Tak heran walaupun telah 54 tahun berlalu, ketakutan terasa oleh masyarakatnya. Jika nantinya erupsi layaknya dahulu terulang kembali.
      Terkait dengan perkembangan Gunung Agung, berita terkini terakses dengan mudah dan tersebar cepat di media sosial. Namun benarkah informasi tersebut tersampai sesuai keadaan yang sesungguhnya?
      Banyaknya informasi yang tersebar melalui media sosial dengan mudah tersaji tanpa pasti keakuratanya justru membuat kekahwatiran yang berlebihan dari masyarakat. Perbedaan presepsi dan tanggapan masyarakat tentunya dapat berdampak secara tak langsung kepada para korban yang mengungsi. Berita-berita tersebut biasa dikatakan hoax atau tak terjadi sesuai keadaan sesungguhnya. Nyatanya hal ini juga sempat disampaikan oleh Gubernur Bali bahwa banyak berita yang disampaikan terkesan berlebihan dan kondisi Gunung Agung yang sebenarnya tak seseram yang diberitakan.
       Oleh karena itu sebagai masyarakat, kita sebaiknya lebih selektif dalam pemilihan berita khusunya yang beredar di media sosial. Sebagai pembaca yang cerdas, kita dituntut untuk dapat memilih berita yang baik dan benar adanya. Serta selalu berhati-hati dengan segala pemberitaan yang serasa tak sesuai sebelum mendapatkan konfirmasi lebih lanjut. (fwd)

 

 

 

 

Pengunjung Lainnya

We have 71 guests and no members online