• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

“Kangen, kangen temen-temen,” kalimat itu meluncur dari bibir I Gede Adi Adnyana, siswa pengungsi asal SMAN 1 Selat, saat mengingat kenangan manis di sekolah tercinta.

    Semenjak peningkatan status Gunung Agung menjadi level awas oleh BMKG (Badan Meteologi, Klimatologi dan Geofisika –red), ribuan pengungsi datang dari seluruh pelosok Karangasem. Termasuk salah satunya, I Gede Adi Adnyana, siswa yang mengungsi ke SMAN 3 Denpasar ini mengaku rindu dengan tanah kelahirannya, Selat Duda. Adi, begitu kerap ia disapa mengatakan bahwa ada hal yang berubah dari kebiasaanya. “Rasanya hampa, sedih harus ninggalin desa. Disini asing, beda aja. Mungkin karena masih baru aja,” ungkapnya seraya menghela nafas.
    Mengulik kisah kesehariannya, laki-laki kelahiran Karangasem, 15 Desember 2000 ini mengaku di Selat dirinya kerap menghabiskan waktu bersama teman-teman. Tetapi kini, perbedaan tempat pengungsian menyebabkan jarak terbangun diantara mereka. “Berat rasanya pisah sama temen-temen, kangen bercanda bareng sama main barengnya,” ungkap pria berperawakan tinggi ini. Dirinya menuturkan setiap sore sepulang sekolah, ia dan teman-temannya akan berkumpul dan pergi ke lapangan untuk bermain basket bersama. “Kangennya disitu, setiap sore pasti main basket bareng. Bercanda, ketawa, seru sekali,” ungkapnya sambil tersenyum. Lagi pula Karangasem merupakan tempat dimana ia dilahirkan dan segala aktivitasnya dimulai di tanah itu.
     Meskipun demikian, beruntung di Trisma (SMAN 3 Denpasar –red) ia mendapat teman-teman yang seru dan menerima kehadirannya, sehingga dengan cepat ia dapat menyesuaikan diri. “Disini temen-temen baik-baik semua, mau menerima saya. Mereka ngajak saya main dan ke kantin, terus bantu saya ngejar materi yang ketinggalan. Seru,” katanya bersemangat. Adi mengatakan, dirinya bersyukur karena dapat menyambung sekolah di Denpasar, ia sadar tidak semua pengungsi memiliki nasib beruntung seperti dirinya. “Kebetulan memang keluarga punya rumah di Denpasar. Jadi waktu dibilang Gunung Agung mau meletus, kita sekeluarga pindah ke sini,” ucap pria yang suka nasi goreng ini.
     Dirinya berharap agar letusan Gunung Agung tidak berdampak terlalu buruk bagi masyarakat Karangasem. Karena kalaupun terjadi, dampaknya akan panjang dirasakan. Banyak masyarakat yang akan kehilangan tempat tinggal dan mata pencahariaan, kalau sudah begitu, Karangasem akan kembali terpuruk seperti tahun 1963 silam. “Ya semoga meletusnya yang kecil-kecil aja, agar masyarakat Karangasem tidak terlalu terpuruk seperti tahun 1993. Karena letusan gunung kan dampaknya lama dirasakan dan semoga tanah Karangasem dapat pulih dengan cepat, sehingga masyarakat dapat mengolahnnya lagi,” tutupnya dengan penuh harap. (pdm)

Pengunjung Lainnya

We have 90 guests and no members online