• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Khusus

Image and video hosting by TinyPic

“Sir ya ngor... yang sir”, membawa setiap kepala ikut meliak-liuk mendengarnya, ratusan pasang mata dimanjakan dengan penampilan yang sarat akan makna (17/9)

      Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Art Center kembali heboh. Pasalnya, penampilan yang paling dinanti akhirnya hadir juga. Sejak pukul 19.30 WITA dari kalangan pengamat seni, kurator, hingga masyarakat telah memenuhi tempat duduk yang terhampar di setiap sudut Ardha Candra guna menyaksikkan parade cak modern. Riuh tepuk tangan penonton menyambut SMA Negeri 1 Tabanan (SMASTA) sebagai penampil pertama parade cak. Perpaduan berbagai ekstra seperti teater, tari, dan tabuh sukses membuat penonton takjub. Suasana semakin heboh, tat kala kehadiran beberapa penari yang menampilkan fire dance kembali menuai riuhnya tepuk tangan penonton. 

      Parade Cak yang bertajuk Satria Darma Jayanti ini mengisahkan perjuangan rakyat Tabanan untuk melawan Belanda. Tokoh istimewa yang ditonjolkan yakni Sagung Wah, putri raja Tabanan yang memiliki jiwa kesatria dan patriotisme. Mengangkat sebuah kisah nyata, menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga besar SMASTA (SMAN 1 Tabanan) “Jadi kami perwakilan Tabanan, menyuguhkan kisah yang menggambarkan perjuangan Tabanan tentunya untuk memperkenalkan sejarah Tabanan di kalangan masyarakat,” aku I Gusti Ayu Ratih Parayuti yang mengemban tugas selaku pembina Teater Jineng SMAN 1 Tabanan. Pada akhir pementasan sekelompok penari yang mengibarkan Sang Saka Merah Putih membuat seisi panggung Ardha Candra tertegun penuh haru.

     Setelah 20 menit persiapan, SMA Negeri 1 Gianyar sebagai penampil kedua kembali disambut dengan riuh tepuk tangan penonton. Berbeda dengan penampilan sebelumnya, DOSMAN (SMA Negeri 1 Gianyar) lebih menonjolkan suasana yang kental akan tradisi. Parade Cak yang bertajuk Tabuh Rah ini bercerita tentang asal-mula rangkaian upacara Bhuta Yadnya. Penari kecak pun menyebar keseluruh panggung, “sir ya ngor yang sir” menjadi simfoni awal penampilan ini. Pertengahan pentas, muncul sekelompok penari dengan kostum burung garuda yang diiringi oleh lantunan gending khas Bali, membuat penonton terhanyut ke dalam kentalnya budaya Bali. Selaku penanggung jawab, Putu Gede Pramana Putra mengharapkan dari adanya penampilan ini dapat menepis anggapan masyarakat tentang tabuh rah. “Sebenarnya, tabuh rah ini rangkaian dari upacara Bhuta Yadnya, tapi banyak yang mengaitkannya dengan tajen (istilah sabung ayam di Bali-red),” ujarnya. Meski kental akan tradisi, ia tak menampik bahwa pakem modern diperlihatkan dari kostum dan koreografinya.

     Kedua penampilan memukau parade cak modern tak terlepas dari kontribusi seluruh pihak di dalamnya. Kekompakan dan solidaritas ditunjukkan demi tetap menjaga kualitas penampilan. Meski dihadang kendala jam pelajaran di sekolah, namun bukan batasan bagi kedua sekolah ini untuk tetap berkarya. Agus Diva sebagai salah satu penari kecak SMA Negeri 1 Tabanan merasa bahagia dapat mewakili Tabanan dalam parade cak ini, “Semoga Nawanatya terus berlanjut, terutama di parade cak-nya agar semakin berkembang kreativitas dari seniman muda di Bali,” ujarnya. Harapan berbeda datang dari pembimbing Teater Jineng SMASTA, I Gusti Ayu Ratih Parayuti “Kalau bisa mungkin tidak di kecak lagi dapatnya, karena dari tahun lalu dapatnya kecak, supaya bisa menampilkan yang baru lah,” harapnya sembari tersenyum kecil. (kyu)

Pengunjung Lainnya

We have 119 guests and no members online