• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Khusus

Image and video hosting by TinyPic

 Lalu-lalang penonton terhenti, kala melihat seonggok keramaian dekat panggung Madya Mandala, Art Center. Ada apa?(15/9)

     Desakan penonton menunjukkan antusiasme yang sangat besar untuk menyaksikkan dua SMA Negeri yang menampilakan pementasan fragmentari. Ada yang berdiri dan ada yang telah membidik posisi dengan duduk lesehan di dekat panggung Madya Mandala, Art Center. Semua tampak tak sabaran untuk melihat aksi dari kedua SMA Negeri tersebut, yakni SMA Negeri 1 Abiansemal sebagai penampil pertama dan SMA Negeri 5 Denpasar sebagai penampil kedua.
     SMA Negeri 1 Abiansemal merasa tertantang, disaat kepercayaan pemerintah beradu dengan keterbatasan sekolah. Pasalnya, sekolah yang menampilkan fragmentari bertajuk Taman Mumbul ini memiliki jadwal double shift (jam sekolah pagi dan sore-red), sehingga hal tersebut menjadi kesulitan tersendiri untuk mengatur jadwal latihan. “Jam latihan jadinya sore-sore, tapi anak-anak sendiri tetap bersemangat untuk latihan dan tampil,“ ujar I Gusti Ngurah Dwi Kuniarsa selaku guru sekaligus tim penata karawitan SMA Negeri 1 Abiansemal. Meski waktu pertemuan latihan hanya 12 kali, namun pementasan yang mengambil inspirasi dari legenda Taman Mumbul ini, berhasil membuat takjub para penonton yang hadir. Terbukti dari luwesnya gerakan penari dan beberapa candaan khas Bali yang mengundang gelak tawa sekaligus decak kagum penonton.
    Tak jauh berbeda dengan SMA Negeri 1 Abiansemal, SMA Negeri 5 Denpasar pun juga menampilkan fragmentari yang tak kalah menarik. Berbeda halnya dengan SMA Negeri 1 Abiansemal yang dibuka dengan tari kreasi, SMA Negeri 5 sendiri mengawalinya dengan komposisi gamelan nan apik dengan tajuk Tabuh Telu Batur Sari yang hadir sebagai pembuka, yang membuat penonton terbawa suasana kental akan komposisi gending tradisional nan artistik. Meski dikatakan pentas fragmetari, namun tampilan wayang yang digunakan sebagai penyambung benang merah cerita menjadi keunikan tersendiri bagi pementasan dari SMANELA (SMA Negeri 5 Denpasar-red).
     Gelak tawa penonton riuh, manakala sekumpulan lelaki mengenakan pakaian adat khas daerah Irian Jaya menari dengan gerakan atraktif dan menghibur. Adegan selingan yang dikemas kreatif dengan menampilkan beberapa tarian khas Indonesia menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton. Sontak tepuk tangan meriah memenuhi panggung di setiap akhir tarian khas daerah tersebut. Fragmentari Sudamala ini pun, sukses membuat penonton merasakan campur aduknya perasaan Dewi Uma yang harus mengorbankan keperawanannya kepada Si Penggembala demi susu lembu putih untuk menyembuhkan Dewa Siwa. Padahal, sosok Penggembala itu adalah Dewa Siwa yang tak lain adalah suaminya sendiri. Tak hanya nuansa tradisional, fragmentari ini dikemas apik dengan dipadukan akting anak-anak teater yang memerankan setiap peran dengan penuh penghayatan.
    Baik SMA Negeri 1 Abiansemal maupun SMA Negeri 5 Denpasar sama-sama telah berhasil menghibur penonton yang hadir dalam panggung Madya Mandala, Art Center. Pada intinya, kedua sekolah ini telah mengupayakan segala fasilitas dan sumber daya manusia yang dimiliki dengan semaksimal mungking. “Dengan adanya kegiatan ini, menjadi penyemangat bagi setiap kelompok ekstra khususnya teater sekaligus untuk mengembangkan potensi anak-anak,” tutur Wayan Sura selaku salah seorang guru SMA Negeri 5 Denpasar. Baginya, Nawanatya ini membawa harapan bagi seniman muda untuk terus berkarya dan menampilkan pementasan yang lebih variatif. Kelanjutan dari Nawanatya ini pun diharapkan pula oleh Alit, selaku masyarakat yang menikmati kedua pementasan tersebut. “Ini sebagai ajang untuk siswa-siswi dan hiburan bagi masyarakat dan wisatawan, jadi perlu dipertahankan dan terus dilanjutkan,” ujarnya dengan tatap dan senyum penuh binar harapan. (kyu/pey)

Pengunjung Lainnya

We have 117 guests and no members online