• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

"Capek dan susah ngatur waktu, tapi mau gimana lagi harus dijalani sepenuh hati," kalimat itu meluncur dari bibir Nyoman Pararta Deswara Evaganna, saat menggambarkan perjuangan meraih mimpi kecilnya.

   Mimpi, hanya akan menjadi omong belaka tanpa usaha untuk mencapainya, hal inilah yang diakui remaja kelahiran Denpasar, 27 Februari 2003 ini. Menurutnya, perlu perjuangan lebih agar sebuah keinginan terwujud. Bagaimana frustasi otak berfikir, lelah tubuh bertindak dan sempitnya waktu bergembira, semua telah dirasakan Eva. Namun, semua dapat terbayarkan ketika batangan bulat itu tergantung di lehernya. "Senang pastinya, akhirnya usahaku bolak-balik Denpasar gak percuma juga. Udah terbayarkan, tapi gak boleh cepet puas juga ini baru awal," tutur peraih emas dan perak bidang humaniora OPSSH V (Olimpiade Penelitian Siswa Sains dan Humaniora -red) di SMAN 3 Denpasar ini.

     Bolak-balik Denpasar, dilakoni Eva bukan tanpa sebab sumabab. Hal ini dilakukannya karena mengurus keempat penelitian yang mengharuskan siswa SMP 1 Saraswati Denpasar ini melakukan survey hingga keluar kota. "Penelitian kali ini memang nguras tenaga, waktu, dan pikiran banyak, ditambah lokasi penelitian yang diluar kota. Harus pintar bagi waktu kalau gak mau ketinggalan pelajaran di sekolah," kenang anak bungsu dari 3 bersaudara ini. Bahkan salah satu judul penelitian alumni SDN 4 Pemecutan ini (Penjual Canang Non Hindu Non Bali dalam Perspektif Ekonomi Kreatif -red), membuat Eva harus memutar otak karena pedagang canang hanya berjualan dipagi hari dan sulit pula mencari pedagang canang non hindu non Bali.

   Begitulah perjuangan seorang Eva. Meniti prestasi disela kesibukannya sebagai pelajar, mengharuskan cowok pisces ini mengorbankan hal penting baginya. Kendati demikian, dukungan datang dari segala arah untuknya, "Walaupun sering pulang malam dari sekolah, orang tua selalu mendukung tetapi kadang marah karena gak ngabarin aja. Guru dan teman-teman juga selalu nyemangatin aku, walau sering gak ada dikelas. Ini yang buat aku semangat saat bosan nyusun penelitian," tutur Eva ketika diwawancarai malam (17/09).

     Usaha Eva akhirnya berbuah manis, tak sia-sia segala perjuangan yang ia curahkan 2 bulan belakangan ini. Tiga dari empat penelitian yang digelutinya berhasil memboyong buah tangan dari Trisma. Diantaranya "Seetan : Alat Absensi Tradisional sebagai Kontrol Sosial Masyarakat di Desa Susut Kelod, Bangli", "Eksistensi Tradisi Metruna Nyoman di Desa Tenganan Pragingsingan kecamatan Manggis, Karangasem Kajian Historis Tradisi Unik di Bali", dan "Penjual Canang Non Hindu Non Bali dalam Perspektif Ekonomi Kreatif". Ketiga judul penelitiannya merebut emas, perak, penelitian harapan, poster terbaik dan makalah terbaik bidang humaniora OPSSH V. Sekaligus menjadi siswa terbanyak yang memborong penghargaan dibidang humaniora. "Bersyukur pastinya bisa menang. Yah, semoga kedepannya aku bisa mengembangkan potensi diri lebih dalam lagi," harap cowok berkulit eksotis ini. (non)

Pengunjung Lainnya

We have 140 guests and no members online