• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Khusus

Kota Denpasar yang dikenal sebagai pusat kota, sudah sangat maju, terutama dalam bidang perekonomian. Namun, tak sedikit orang yang belum bisa mengikuti arus tersebut, jika dilihat-lihat, hal tersebut sangatkah ironi.

      Sebuah keterpaksaan bagi Ni Nyoman Latri, gadis 7 tahun yang seharusnya duduk di sekolah dasar ini untuk membantu ibunya menjadi tukang suun di Pasar Tradisional Kumbasari, Badung. Ia mengaku bahwa ia membantu ibunya sejak pukul 5 pagi. “pagi-pagi harus udah berangkat, bantuin ibu buat nyuun sayur, atau buah,” ujar gadis berkulit sawo matang ini. Untuk mengangkut sayur, ataupun lainnya, gadis ini menerima upah sebesar Rp. 5.000, tergantung dari berat beban bawaan yang diterimanya. Sambil menyuun keranjang kosong, gadis ini akan menawarkan jasanya kepada orang-orang yang berlalu lalang.

     “Suun bu, suun pak,” ucap beberapa anak pedagang suun dengan nada memelas. Dengan keranjang kosong tersebut mereka berkeliling menawarkan jasa. Mereka tak kenal lelah dari pagi hingga sore terus menawarkan jasa. Ketika Pasar Badung sedang sepi pelanggan, tak jarang mereka saling berkumpul dan bermain bersama teman-teman sebaya mereka. “Kalau ada pelanggan ya syukur, kalo misalnya ndak ada ya mau bagaimana, saya belum makan dari pagi,” ujar salah satu anak pedagang suun.

     Tak jarang, orang-orang berhati mulia tak segan datang kesana untuk membantu mereka, kadang, mereka membawa bungkusan nasi untuk dibagikan kepada anak anak tukang suun tersebut. Salah satunya adalah Gangga, cowok yang masih duduk di bangku menengah atas ini tak segan berkunjung kesana, ia nampak membagikan bungkusan nasi kepada anak-anak tersebut, sambil bercanda gurau, ia mengobrol dengan anak-anak tersebut. “Saya bagiin bungkusan nasi tadi sukarela, bukan ada maksud apa-apa, seneng aja liat orang lain seneng, kasian juga kan mereka ngga makan dari pagi,” ujar remaja 16 tahun tersebut.

     “Baru sekali kesini, tapi tadi sambil nunggu mereka makan, dapet ngobrol banyak. Mereka ngga pernah ngerasain bangku sekolah sama sekali, jadi ya mereka sehari-harinya dihabisin di Pasar Badung ini,” ujar Gangga.

      Untuk melakukan pekerjaan tersebut, mereka hanya memerlukan tenaga yang ekstra untuk ukuran anak-anak, jadi hal ini mencerminkan anak-anak tersebut adalah anak anak yang tangguh, pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik ini tak hanya bisa dilakukan oleh laki-laki saja, namun juga perempuan bahkan anak-anak pedagang suun ini. (msk)

Pengunjung Lainnya

We have 125 guests and no members online