• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Tajuk

Mencorat coret seragam sekolah, kebut-kebutan, dan berkonvoi, begitulah pelajar Indonesia merayakan kelulusannya. Berbicara mengenai pendidikan, Indonesia masih berada sangat rendah dan tertinggal dari negara maju lainnya.

 

       Potret pendidikan yang memilukan, banyak orang menyia-nyiakan fasilitas pendidikan yang dimiliki sedangkan jauh dipelosok negeri sana, orang nyaris mempertaruhkan nyawa hanya untuk mendapatkan ilmu yang dirasa sangat mahal itu. Uang, itulah kendala mereka. 

      Setelah merayakan kelulusan, para pelajar pastinya akan kembali disibukkan dengan pendaftaran menuju perguruan tinggi. Ada yang hanya mengandalkan keberuntngan, belajar dengan giat untuk mengikuti tes, mencari informasi tentang beasiswa atau mungkin saja sedang sibuk menyiapkan uang dan mencari orang dalam. Tabu dibicarakan namun halal dilakukan, tak diherankan lagi salah satu cara ini banyak dilakukan orang agar mendapatkan perguruan tinggi favorit yang mereka idamkan. Alasanya beragam, karena gengsi, malu atau hanya sekedar mengejar popularitas saja walau cara ini terkesan curang dan tidak adil. 

      Integritas? nyatanya hanya sebuah gembar-gembor semata, kejujuran dengan mudah diabaikan dengan sumbatan harta orang berada. Lalu bagaimana dengan mereka yang melewatinya dengan susah payah dan kerja keras? Jelas, hal tersebut menjadi sangat tidak berimbang. 

        Kemajuan komunikasi dan informasi yang semakin canggih membuat hal tersebut sudah tak menjadi rahasia publik lagi. Banyaknya masyarakat yang geram akan ketidakadilan ini membuat beberapa universitas mulai mengadakan pembenahan. Terbukti sekarang banyak universitas di Indonesia memberhentikan satu dari tiga jalur penerimaan mahasiswa baru yaitu jalur Mandiri dan hanya menerima siswa melalui jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) saja. 

       Di samping cara tersebut, peran pemerintah amat sangat diperlukan dalam menangani kasus ini, kurangnya pengawasan dalam pelaksanaannya menjadi faktor utama terjadinya ketidakjujuran dalam penerimaan mahasiswa didik baru. Oleh karena itu setiap tahunnya pengawasan dan penjagaanya diharapkan agar diperketat guna menekan angka kecurangan di Indonesia, serta menghasilkan peserta didik baru yang bersih dan menjunjung tinggi nilai integritas.

Pengunjung Lainnya

We have 65 guests and no members online