• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Artikel

Uang. Kata siapa uang tidak bisa membeli segalanya? Hampir semua aspek kehidupan jaman sekarang dapat “diutak-atik” asal berkantong tebal. Termasuk pendidikan.

 

         Pendidikan berarti proses pemupukan pengetahuan, keterampilan dan sikap untuk mewujudkan segenap potensi yang ada dalam diri seseorang. Pendidikan merupakan sektor penting bagi manusia di dunia. Pendidikan sebenarnya dapat diperoleh secara otodidak, melalui bimbingan orang lain, atau lazimnya melalui sekolah. Semua orang tentu menginginkan sekolah yang berkualitas tinggi sebagai tempat mengenyam pendidikan. Jika kita menengok ke dalam sistem penerimaan siswa baru di Indonesia, kacau. Ada hitam diatas putih. Kemampuan otak masing masing individu seolah bukan lagi menjadi hal yang diperhitungkan. Uang menjadi si nomor satu.

         Dalam masyarakat Indonesia, sekolah seolah diklasifikasi menjadi sekolah favorit dan sekolah biasa. Adanya titel sekolah favorit ini membuat para orang tua murid berlomba lomba mendaftarkan anaknya kesana. Karena di mata masyarakat sekolah favorit menawarkan pendidikan yang lebih berkualitas dibandingkan sekolah lain yang tidak dicap favorit. Bersekolah di sekolah favorit juga menjadi faktor menaikkan status sosial seseorang. Lebih besar suap daripada tenggorokan. Lebih besar keinginan daripada kemampuan. Ironisnya, keinginan untuk bersekolah di sekolah favorit tidak diimbangi dengan kemampuan individu yang memadai. Disinilah uang berbicara. Pihak sekolah dan pihak orangtua siswa berkompromi. Sekolah membutuhkan dana untuk kelangsungan proses belajar mengajar. Sedangkan orang tua siswa membutuhkan “kursi” untuk anaknya di sekolah.

       Kongkalikong ini tentu terasa tidak adil bagi pihak yang belajar mati matian untuk mendapatkan sekolah favorit tersebut, mengandalkan kemampuan otak. Pihak pihak yang seperti ini malah digeser dengan uang. Akibatnya sama saja dengan menyianyiakan potensi siswa. Bak membuang emas dan menggantikannya dengan batu. Kualitas sekolah menjadi menurun. Tak jarang terjadi kasus membludaknya siswa karena sekolah bingung harus mengutamakan pihak berduit atau pihak berotak. Hal ini membuat kegiatan belajar mengajar tidak efektif lagi. Jika terus menerus seperti ini, maka dipastikan kualitas pendidikan di Indonesia tidak akan bergerak maju.

     Setiap masalah pasti punya jalan keluar. Penghapusan titel sekolah favorit dan sekolah biasa di kalangan masyarakat dapat dilakukan oleh pemerintah dengan jalan pemerataan sekolah dengan sistem rayon. Jadi semua sekolah sama saja. Siswa yang diutamakan adalah siswa yang bertempat tinggal di sekitar sekolah tersebut. Hal ini menghindari adanya pihak yang tidak dapat sekolah dan tergeser oleh orang orang berduit.

      Pihak sekolah juga seharsunya mengambil kebijakan tegas agar hal hal tidak jujur seperti diatas tidak manjadi kebiasaan. Sekolah dapat memperketat jalur penerimaan siswa baru dan menutup “pintu belakang”. Lebih mengutamakan kejujuran daripada yang lain. Dan yang paling penting adalah para orangtua siswa seharusnya lebih memotivasi siswa untuk memperbaiki kualitas diri bukannya malah sibuk menyiapkan uang dan hubungan dengan orang dalam agar anak mendapat sekolah yang diidamkan. (rnt)

Pengunjung Lainnya

We have 73 guests and no members online