• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Sudah bukan rahasia umum lagi, dunia perkuliahan memiliki sisi hitamnya tersendiri dalam penerimaan setiap kadernya, lantas bagaimankah ulasannya?

 

        Menapaki indahnya bangku kuliah memang menjadi dambaan seluruh siswa khususnya yang telah lepas dari bangku sekolah menengah atas. Tujuannya tak semata-mata hanya untuk memperoleh gelar sarjana sebagai pemanis nama. Namun, urusan pekerjaan pun sepertinya menjadi tujuan utama mereka. Tak dapat dipungkiri lagi, gelar bak aset kedua setelah kemampuan personal untuk mencari pekerjaan.

        Persaingan untuk menduduki bangku perkuliahan tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kerja ekstra sejak awal bersekolah di sekolah menengah atas hingga pada saat waktunya tiba. Mulanya terdapat 3 cara menuju bangku kuliah. Pertama yaitu Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Pada tahap ini, nilai rapor yang terus meningkat tiap semester dan embel-embel prestasi di dalamnya menjadi kunci sukses untuk lolos melalui jalur ini. Kedua, yaitu Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN). Ini adalah tahap kedua yang ditapaki apabila gagal di SNMPTN. Seperti namanya pada tahap ini diadakan tes bersama sebagai syarat agar tembus ke bangku kuliah. Kalau gagal lagi, seleksi mandiri menjadi pilihan terakhir, pada tahap ini siswa yang gagal juga diberikan tes agar lolos.

        Sayangnya, jalur terakhir ini bak lubang hitam yang menjerumuskan siswa. Pasalnya, jalur seleksi mandiri sendiri kurang jelas mengenai tata cara penerimaan mahasiswanya. Terlebih lagi mayoritas yang berhasil melalui jalur ini adalah orang-orang yang memiliki segi pendanaan yang lebih. “Ya sebenernya aku pribadi juga nggak tahu kenapa bisa lolos, belajar nggak juga,” ujar Adi Cipta. Laki-laki yang telah berkuliah selama 4 semester di salah satu universitas negeri di Bali ini menuturkan bahwa dirinya tak menampik bahwa mungkin saja ada embel-embel lain dalam penerimaan mahasiswa di jalur mandiri. “Jujur aja, aku itu anaknya malas belajar, yah mungkin aja ada uluran dari mana gitu tapi aku gak pernah tahu, ya kali dari awal aja aku peringkatnya jauh kok bisa langsung lolos,” tuturnya sembari tertawa keras. Meski banyak rekannya yang mencibir, namun mahasiswa yang mengambil jurusan arsitektur ini tak ambil pusing. Justru ia menganggap bahwa itu merupakan rezeki yang tak dapat ditolak.

        Menanggapi hal tersebut, Drs. Purwadi, M.Hum yang merupakan salah satu dosen antropologi di Universitas Udayana menuturkan bahwa tak jarang jalur seleksi mandiri memang agak berlebihan baginya. “Pada dasarnya, mandiri ini jalur yang tidak perlu ada ya, karena mau dites apalagi? Toh di SBMPTN sudah nggak lolos,” ujarnya sambil tersenyum simpul. Ia pun menambahkan kali ini UNUD hanya menerima dua jalur saja, yakni SNMPTN dengan kuota 30% dan SBMPTN dengan kuota 70%. “Aturan dari menteri sudah ada, jalur mandiri ini digunakan apabila ada prodi yang daya tampungnya belum penuh dan nilainya mengacu pada hasil SBMPTN, jadi nggak perlu toh ribet-ribet ada tes-tesan lagi,” paparnya sambil tertawa kecil. Purwadi pun berharap dengan adanya peraturan ini, penerimaan mahasiswa menjadi bersih agar nantinya dapat dihasilkan generasi penerus bangsa yang bersih pula. (kyu)

Pengunjung Lainnya

We have 65 guests and no members online