• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Khusus

Image and video hosting by TinyPic

Belakangan semakin jarang dapat menonton pementasan teater berkualitas di Denpasar. Kalaupun ada, pementasan teater anak muda di Denpasar lebih banyak sekadar operet-operetan. Tak heran, pementasan teater Sadewa di Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-39 mengobati kerinduan menonton pementasan teater berkualitas.

     Obat rindu dari teater Sadewa berupa pementasan lakon ‘Tragedi Di Atas Ranjang’. ‘Tragedi Di Atas Ranjang’ menceritakan tentang kekuatan Tri Guna (Sattwam, Rajas, Tamas) yang menguasai diri seorang raja. Raja yang memiliki seorang permaisuri yang cantik dan sangat mencintai sang Raja. Itu tercermin dalam dialog sang permaisuri kepada sang raja yang akan berangkat menumpas kejahatan dan pemberontakan. Sang permaisuri mengatakan, ”seperti janji kita dulu saat akan menikah. Bila bli lebih dulu meninggal, saya rela menceburkan diri ke api pengabenan bli.” Sebuah cinta sejati. Cinta sejati ini kemudian dikombinasikan dengan intrik istana berupa aroma perebutan kekuasaan.

     Aroma perebutan kekuasaan bermula saat sang Patih mengetahui Raja memberi selembar saputangan sebagai tali pengikat cinta. Sang Patih memanfaatkan dan menipu istrinya yang tak lain dari dayang kesayangan permaisuri, untuk mendapatkan sapu tangan tersebut. Sapu tangan itu kemudian berpindah tangan kepada seorang pemuda bernama Apramana (keponakan sang Patih). Saat Raja kembali ke istana ia melihat sapu tangan itu berada di tangan Apramana Raja marah dan terbakar api cemburu. Tanpa bertanya sang Raja langsung membunuh permaisuri yang sedang tidur. Tetapi betapa terkejutnya Raja ketika mengetahui dari dayangnya bahwa sapu tangan itu berpindah tangan karena ia diminta oleh suaminya (Patih) untuk meminjam sapu tangan kepada permaisuri untuk bahan menujum keselamatan Raja dan kerajaan. Rajapun menyesal dan bunuh diri di samping permaisurinya. Dayang yang kecewa dengan suaminya juga bunuh diri. Patih yang merasa berhasil dengan tipu muslihatnya untuk menyingkirkan Raja, akhirnya juga tewas di tangan para raksasa yang juga setia kepada Raja. “Konsep dasar cerita ini (Tragedi Di Atas Ranjang –red) adalah saya sebenarnya mengambil dari filosofis Tri Guna atau musuh diri. Dari situ saya kembangkan agar manusia sadar bahwa musuh utamanya adalah dirinya. Tetapi mereka tidak sadar. Itu yang ingin saya angkat pada sebuah pertunjukkan,” terang Jayendra. Masih menurut Jayendra, ketika orang mengetahui tentang musuh diri yang dapat melupakan kesejatian sebagai manusia, yang akhirnya manusia kehilangan dirinya maka dia dapat melakukan apa saja. “Dan, diapun dapat melakukan tindakan pembunuhan kepada orang yang betul-betul dia cintai. Ini yang saya angkat dalam cerita ini,” tegas Jayendra.

     Jayendra selaku penulis sekaligus sutradara merasa bahagia ketika ‘Tragedi Di Atas Ranjang’ berakhir dipentaskan. Ia bahagia karena begitu besar animo penonton yang datang menonton. Gedung Ksirarnawa, Kamis malam (29/6) benar-benar sesak oleh penonton. Sampai-sampai penonton harus rela duduk di lesehan hingga ke tepi panggung jalan masuk dari belakang ke tengah di sela-sela kursi. Kebahagian lain Jayendra karena pemain mampu menampilkan akting yang prima sesuai tuntutan karakter di naskah. Mulai dari peran kecil hingga peran utama. Apalagi dukungan tata musik secara live dari Ary Wijaya (Palawara) dkk dan tata lampu yang pas mampu memberi suasana yang kuat pada pertunjukkan. “Pertunjukkan yang bagus,” komentar pendek seorang pegiat teater di SMAN 3 Denpasar, Dwi Pradnyaning, usai pementasan.

     Pementasan ini juga memuaskan Presiden teater Sadewa selaku Pimpinan Produksi ‘Tragedi Di Atas Ranjang’, Ryan Indra Darmawan. “Agar sekali-sekali pertunjukkan teater (di Denpasar –red) sampai antre mau menonton. Tidak hanya di operet masyarakat dan anak muda rela antre untuk menonton ,” canda Ryan Indra. Dan, memang itulah kenyataan pertunjukkan Kamis malam. Seolah pementasan lakon ‘Tragedi Di Atas Ranjang’, oleh Teater Sadewa dari kelurahan Kesiman, kec. Denpasar Timur (duta kota Denpasar) mampu mengobati kerinduan penonton teater akan pertunjukkan teater yang berkelas (nan).

Pengunjung Lainnya

We have 63 guests and no members online