• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

"Yang terpenting itu proses bukan hasilnya" begitulah pepatahnya. Tetapi orang-orang kini justru terfokus untuk mencari ‘hasil’ bukan ‘prosesnya’. Akhirnya, fenomena itu telah mendarah daging, sebab masuk dari sendi kehidupan terpenting; Pendidikan.

 

     Hal itu membuat Anita Kusuma (16) gundah gulana. "Sebenernya proses itu penting tetapi kebanyakan guru lebih senang jika nilai murid 100 ketimbang mikirin sebenernya murid itu ngerti atau gak. Termasuk saya juga sih, apalagi kalau ulangan ketika bener-bener gak ngerti materi harus nyontek jadinya biar gak remidi karena guru akan lebih melihat hasil daripada proses, tidak peduli jujur atau tidak," ungkap Anita.
     Mencontek bukanlah hal awam lagi bagi para siswa, bahkan jika ditelusuri lebih lanjut mencontek sudah menjadi kebiasaan setiap diadakan ulangan. Bahkan kerap kali pengawas ujian membiarkan saja ketika melihat siswa saling menyontek. Menyontek seperti membawa ceplekan, bertanya kepada teman, menyalin jawaban teman, semua dilakoni siswa setidaknya agar mereka tak remidi. "Siapa sih yang mau remidi, pasti gak ada. Kalau remidi pasti nilai rapot saya jeblok. Kalau jeblok pastilah dimarah orang tua pas rapotan. Kadang bapak saya bilang kenapa saya gak belajar serius, gak bisa ngatur waktu dengan baik dan cuman main hp aja dirumah, tapi sebenernya saya udah berusaha semaksimal mungkin biar nilai dirapot gak jeblok, tapi tetap saja pasti selalu dimarah kalau nilainya jelek," ujar Brahmani Prita Dewi (15) salah satu siswi SMA ini.
     Seberapa penting ‘nilai’ di mata masyarakat? Segalanya harus berdasarkan nilai tinggi padahal siswa sendiri tak mampu untuk mengikuti pembelajaran. Mecerdaskan kehidupan bangsa itulah kalimat yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang, tapi pada kenyataannya, bukan mencerdaskan, tetapi malah pelajar dididik menjadi budak pengejar nilai. Seperti inilah bobroknya pendidikan di Indonesia saat ini.
     Melihat pendidikan semakin lama semakin melenceng, maka munculah inisiatif membuat petisi yang ditujukan kepada Presiden dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bertajuk, "Reformasi Pendidikan Indonesia : Pendidikan yang Membebaskan Menuju Manusia Merdeka!" oleh yang digaungkan pada Presslist 8 (21/04) oleh tim Madyapadma Journalistic Park. Petisi digelar melalui website https://www.change.org/p/joko-widodo-reformasi-pendidikan-indonesia-pendidikan-yang-membebaskan-menuju-manusia-merdeka. Petisi ini diupload pertama kali pada tanggal 18 April 2017 jam 19.33 wita. Tak hanya itu, petisi juga dilaksanakan melalui penandatanganan langsung oleh sejumlah siswa dari berbagai SMP-SMA di Kota Denpasar, pada Jumat (21/08) lalu.
     Galuh Sri Wedari (16), Koordinator Bidang Petisi mengungkapkan, “tidak ada yang tahu, bahwa selama ini siswa itu resah akan sistem pendidikannya sendiri.” Maka dari itu, Madyapadma menggagas petisi ini untuk mewadahi aspirasi pelajar yang selama ini suaranya justru kurang diperhatikan ketika membuka kritikan terkait kurang tepatnya sistem pendidikan di Indonesia.
     Sesuai isi pertama petisi "Kembalikan sistem pendidikan Indonesia pada hakikat pendidikan yang mencerdaskan dan memanusiakan manusia" dengan ini, pendidikan diharapkan kembali pada ‘jalannya’ yang sesungguhnya. Bukan hanya berkiblat pada hasil, kemudian menyengsarakan siswa. Sebab pada hakikatnya, pendidikan harus ‘memanusiakan manusia’. (non)

 

 

 

Pengunjung Lainnya

We have 88 guests and no members online