• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Khusus

“Menghafal materinya itu banyak. Apalagi menjelang ulangan. Ditambah guru-guru menuntut kami agar nilai bagus agar mereka tidak perlu repot memberik remedial,” aku Brahmani Prita Dewi bergerutu, Jumat (5/05). 

 

     Prita begitu bukan tanpa sebab. Jawaban itu jelas terlontar, ketika gadis berparas manis itu disinggung soal siswa yang selama ini dituntut hanya mengejar nilai semata. Padahal, “otak” belum jelas mencerna, sehingga tidak ada ilmu yang didapat.
     Sebab-musabab, hal ini disebabkan karena kondisi pendidikan kini masih ‘goyah’. “Pendidikan Indonesia saat ini masih ambigu gak jelas kurikulum dan tujuannya,” ujar Yoga Smara Dyana, seorang siswa SMAN 3 Denpasar. Ganti menteri ganti kurikulum ganti juga kebijakannya. Pembelajaran dari pagi hingga sore, mata pelajaran harus semua dikuasai, ranking menjadi angka yang ditakuti, dan nilai adalah segalanya. Tetapi kejujuran dalam proses pendidikan malah diabaikan.
     Bagi Yoga, penjelasan materi dari beberapa guru masih belum dirinya cerna dengan baik. Ditambah, pembelajaran kadang tidak berjalan teratur karena beberapa kali ada guru yang tidak dapat mengajar di kelas. “Kendalanya pada guru yang mengajar, seperti gurunya gak jelas ngejelasin, terus gurunya kadang dateng kadang gak,” tutur laki-laki berkacamata. Ketika nilai jadi pertaruhan, proses pembelajaran malah belum terlaksana optimal. Lengkap sudah nestapa menjadi siswa. Terlebih lagi nilai kini juga adalah penentu memburu universitas.
     Sedikit berbeda dengan Ima Gita Elhasni. Siswi XII IPS ini mengatakan bahwa hanya beberapa nilai dari mata pelajaran saja yang ia utamakan. “Kalau ilmu kayak sosiologi, bahasa dan sebagainya baru aku berusaha buat dapet nilai bagus. Karena itu ilmu yang bisa kita praktekin dan analisis langsung di masyarakat. Berhubung sekolah masih nganggep standar kemampuan tu diliat dari nilai, yaudah jadinya ngejar,” jelas siswi berkacamata ini.
     Tetapi, “Sebenernya nilai itu ga penting. Enak saja kita diukur-ukur kayak gini. Buat apa sekarang bohong nyari nilai tinggi, tapi gedenya korupsi ditutup-tutupi,” tambahnya berapi-api. Sebab jenuh bukan diukur hanya dari ‘angka’ semata. Hal senada dikatakan oleh Yoga Smara Dyana. “Sebaiknya sistem pendidikan Indonesia tidak mementingkan nilai sebagai satu-satunya penilaian bagi pelajar,” jelasnya singkat.
     “Ya, semoga sistem pendidikan Indonesia lebih dibenahi, lah. Tidak berpatokan nilai saja. Kasihan kan kalau sampai orang-orang pintar Indonesia malah pergi keluar negeri dan malah kita sendiri yang kekurangan SDM,” kata Prita penuh harap.(cw)

Pengunjung Lainnya

We have 86 guests and no members online