• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Berbagai hiasan yang beranekaragam dalam sebuah penjor membuat makna asli dari penjor mulai terkikis.

 

      Ribuan penjor telah berdiri kokoh di sepanjang jalan dengan berbagai kreasi yang menarik dan memikat perhatian. Hal ini memang telah menjadi tradisi krama Bali dalam menyambut datangnya Hari Raya Galungan dan Kuningan yang diperingati setiap 6 bulan sekali sebagai simbol perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma. Penjor biasanya dibuat pada hari Penampahan Galungan atau 1 hari sebelum Hari Raya Galungan dan dilebur 35 hari setelah hari Raya Galungan atau yang sering disebut Rahina Buda Kliwon Pegatwakan.

        Salah satu tujuan dibuatnya penjor yakni untuk mewujudkan rasa bhakti dan sebagai ungkapan terima kasih kita atas kemakmuran yang diberikan oleh Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bentuk penjor yang melengkung dengan bahan dasar bambu menggambarkan gunung tertinggi sebagai tempat yang suci. Sementara hiasan-hiasaannya yang terdiri dari kelapa, pisang, tebu, jajan, kain, dan berbagai hasil bumi lainnya merupakan wakil dari semua tumbuh-tumbuhan dan benda sandang pangan, yang dikaruniai oleh Sang Hyang Widhi Wasa.

      Seiring dengan perkembangan globalisasi, sebagian besar orang-orang lebih memilih untuk membeli penjor dengan bahan-bahan yang serba praktis dan bervariasi, namun perlengkapannya tidak lengkap. “Kalo saya sih, lebih memilih membuat penjor sendiri dibandingkan membeli, biarpun kalau membeli hasilnya lebih bagus tapi kan perlengakapan-perlengkapannya belum tentu lengkap, Beda kalau kita buat sendiri pasti perlengkapannya lengkap.” Ujar Gede Suputra, yang kesehariannya sebagai guru. Tak hanya perlengkapannya yang kurang lengkap, jika membeli penjor juga biasanya dilengkapi dengan hiasan-hiasan yang terlalu berlebihan sehingga mengurangi arti dan makna dari penjor itu sendiri. “ Akhir-akhir ini banyak saya temukan penjor yang terlalu berlebihan. Sebenarnya sih hal ini malah membuat makna penjor itu semakin terkikis. Kalau tetap seperti ini, Penjor bukan lagi sebuah simbolis melainkan hanya sebuah hiasan semata.”

       Hal senada diungkapkan Made Sudiatmika, seorang petani jagung “ Kalo menurut saya lebih baik membuat penjor sendiri karena telah menjadi budaya sendiri di desa saya, disamping itu jika membeli penjor sarana-sarana perlengkapan penjor belum tentu sesuai sehingga dapat mengurangi arti dan makna penjor tersebut.”

        Berbeda dengan Cok Yudistira. Lelaki tinggi ini lebih memilih untuk membeli penjor yang sudah siap pasang. Ia mengaku lebih baik membeli penjor sudah jadi daripada harus membebani diri di sela waktu yang sibuk. “Pokoknya supaya praktis. Kita kan ga selalu punya waktu untuk bikin penjor. Sibuk kerja juga soalnya,” jelasnya. Keyakinan dan ketulusan hatilah yang terpenting dalam menyambut hari raya galungan dan kuningam daripada harus merasa terbebani. “Yang penting iklas, pasti Tuhan menerima apa adanya”, tambahnya sambil tersenyum. (cw) 

Pengunjung Lainnya

We have 200 guests and no members online