• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

“Tidak ada larangan untuk masyarakat, malah ada himbauan bagaimana cara mengkonsumsinya dengan baik dan benar,” tutur Ida Ayu Ida Ayu Made Sri Martini (56), Kepala Seksi Kesehatan Hewan DISTAN Kota Denpasar mengenai wabah penyakit yang sedang hangat diperbincangkan, Senin (10/04).

 

      Isu mengenai penyakit meningitis yang berasal dari babi memang cukup meresahkan masyarakat Bali. Pasalnya makanan khas masyarakat Hindu di Bali kebanyakan berbahan dasar daging babi. “Di Bali yang paling enak ya babi gulingnya, di segala penjuru Bali, rasa babi guling pasti enak hehe,” aku Ida Bagus Pramana Putra (17), salah seorang remaja yang gemar makanan khas Bali.

     Tidak hanya menjadi maskot makanan di Bali. Daging babi juga merupakan sesajen wajib yang dipakai untuk menjalankan upacara-upacara Hindu di Bali. Seperti halnya saat hari raya Galungan kemarin, umumnya dirayakan dengan kegiatan nglawar yang menggunakan daging babi. Isu mengenai penyakit tersebut tentu mempengaruhi pola pikir masyarakat untuk mengkonsumsi babi. “Iya agak sedikit menurun permintaannya sekarang, mungkin karena masyarakatnya takut sama penyakit meningitis,” ujar Ni Putu Wenci (54), salah seorang pedagang daging babi.

      Kendati demikian, ada juga sebagian masyarakat yang tidak takut dengan isu penyakit meningitis tersebut, dan tetap melaksanakan kegiatan nglawar seperti biasanya. “Iya tetep aja bikin lawar seperti biasa pake daging babi, karena memang cara memaksanya sudah dipastikan benar-benar matang, jadi tidak perlu takut,” ujar Ketut Puja (46) salah seorang masyarakat yang tidak takut memakan daging babi.

      Hal tersebut memang dibenarkan oleh Drh. Ida Ayu Ida Ayu Made Sri Martini (56), Kepala Seksi Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Denpasar. “Jika daging babi yang segar dimasak dengan matang, maka tidak akan berbahaya jika dikonsumsi,” jelasnya. Ia juga mengatakan bahwa tidak semua daging babi menyebabkan penyakit meningitis, namun hanya babi-babi sakit yang mengandung bakteri streptococcus.

      Beliau mengakui bahwa dari pemerintah tidak ada larangan kepdada masyarakat untuk mengkonsumsi daging babi. “Kami tidak melarang, justru kami memberikan himbauan untuk tidak takut mengkonsumsi daging babi asal dagingnya berasal dari daging yang segar dan dimasak dengan tingkat kematangan yang sempurna, kalau caranya sudah benar, maka tidak ada yang perlu di khawatirkan” tegasnya. (git)

Pengunjung Lainnya

We have 111 guests and no members online