• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Nyepi bukanlah hari raya untuk meceki, tapi Nyepi adalah hari suci untuk menyucikan diri.

 

       Selasa (28/03), merupakan hari suci bagi umat hindu yaitu Nyepi. Hari suci Nyepi sendiri sebenarnya terdiri dari beberapa rentetan acara yaitu pangrupukan. Pelaksanaan pangrupukan ini aadalah sehari sebelum Nyepi. Pangrupukan diawali dengan Upacara Tawur Agung, yang dilanjutkan dengan arakan ogoh-ogoh oleh masyarakat ke seluruh penjuru desa mereka. Diakhir acara ogoh-ogoh dibakar sebagai simbol nyomia bhuta kala atau peleburan hal-hal yang bersifat negatif yang mengganggu ketentraman desa ini. Kemudian keesokan harinya barulah adalah perayaan Nyepi.

       Nyepi sendiri merupakan tahun caka atau tahun barunya umat hindu. Nyepi juga identik dengan pelaksaan Catur Brata, diantaranya Amati Geni (Tidak boleh menyalakan api), Amati Lelanguan (Tidak boleh melaksanakan kegiatan berfoya-foya), Amati Lelungan (Tidak boleh berpergian), Amati Karya (Tidak boleh melakukan pekerjaan). Dalam Catur Brata ditekankan pada konsep kesadaran seseorang agar dapat mengendalikan dirinya pada saat perayaan Nyepi berlangsung. Setiap desa pakraman di Bali memiliki aturan tersendiri, yang paling umum adalah aturan tidak boleh keluar rumah kecuali memang keadaan darurat, disamping itu juga ada larangan tidak boleh menghidupkan lampu dan tidak diperbolehkan menimbulkan suara yang berisik. Semua aturan ini tentunya bertujuan agar tidak menodai sucinya Hari Nyepi sendiri.

       Namun, menurut I Ketut Subrata selaku satu Pecalang Banjar Taman Sari, masih saja ada masyarakat yang membandel seperti keluar rumah dan sengaja duduk di jalanan. Hal ini tentuya tidak sesuai dengan apa yang sudah menjadi peraturan. Hal senada juga diucapkan Devangga Makarabaja "Di lingkungan saya sendiri tentu diberlakukan peraturan, tapi masih banyak yang melanggar, seperti malah sengaja keluar rumah dan duduk di jalan raya. Anak kecil juga ikut melanggar dengan bermain bola dan bahkan segelintir warga diam-diam juga ikut dalam meceki atau judi dalam istilah Bali. Seharusnya nyepi dilaksanakan dengan perenungan tapi malah disalahgunakan untuk berjudi bahkan mabuk-mabukan," ujar warga Banjar Uma Sari ini. Menurutnya, meceki dilakukan oleh warga sekitar untuk mengisi waktu karena bosan dirumah, karena tidak ada pekerjaan. Tentu tidak dilakukan secara terang-terangan ditempat umum, tapi meceki saat nyepi lebih terarah ke rumah penduduk sekitar sehingga tidak terdeteksi dari luar. Meceki memang tidak ada dalam aturan, tapi tentu akan menyalahi makna Catur Brata Penyepian ini. Jika ketahuan meceki, paling tidak hanya akan mendapat teguran halus dari pecalang. "Meceki emang dilarang tapi dari pihak pecalangnya cuma negur secara halus aja, malah kadang pecalangnya ikut meceki bukannya mengawasi dan melarang. Sebenarnya dari pihak bendesa sendiri sudah mengingatkan, tetapi tidak adanya pantauan langsung membuat efeknya kurang jera," lanjut Devangga.

        Menurut Njo Tjen Rung, salah satu orang Cina yang telah lama di Bali, Perayaan Nyepi terdahulu berbeda dengan sekarang. Dulu Nyepi memang benar-benar Nyepi dalam artian memang hari yang ditunjukan hanya untuk renungan. Renungan tak sebatas hanya meditasi atau membaca kitab suci tetapi juga dapat dimasukan dalam konteks keluarga. Dalam sebuah keluarga Nyepi dapat menjadi hari pendekatan dimana anggota keluarga satu dengan yang lainnya dapat berbagi keluh kesahnya selama 1 tahun kemarin, begitulah Nyepi dahulu menurut wanita parubaya ini. Dengan begitu, tentu terlihat jelas perayaan hari suci nyepi antara dulu dan sekarang. Sekarang Catur Brata hanya dijadikan sebagai formalitas aturan nyepi, malah sekarang sudah banyak yang mulai melenceng dari aturan ini dan justru berarah ke hal negatif pula seperti meceki. Oleh karenanya, marilah mengintropeksi diri untuk menumbuhkan kesadaran masing-masing dalam pemaknaan Nyepi, "Untuk kedepannya saya harap kebiasaan meceki yang kian turun temurun setiap Nyepi, saya harap dapat dihilangkan. Agar pemaknaan Nyepi sendiri tidak hilang, dan kedepannya semoga Umat Hindu bisa melaksanakan Catur Brata dengan lebih hikmat dan damai," ungkap Devangga mengakhiri percakapan. (non/msk)

Pengunjung Lainnya

We have 111 guests and no members online