• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Image and video hosting by TinyPic

"Kalau orang tua kita sudah gak ada, siapa yang mau melanjutkan, kita kan juga perlu belajar, ya dari sekaranglah waktunya,"Ucap gadis belia ini dengan antusias.

        Intan nanda geymina (16) adalah salah seorang remaja yang gemar ikut kegiatan melis atau melasti. Menurutnya kegiatan melasti memiliki sisi serunya sendiri. "Seru banget ramai ramai naik truk sama saudara, walaupun sederhana tapi gak tau kenapa rasanya menyenangkan," ujarnya.

      Upacara yang dilakukan rutin setiap tahun ini mempunyai keunikan tersendiri yang mencerminkan kebudayaan agama hindu. "bisa kita liat dari prosesi mepeed atau iringan-iringan yang berbondong bondong berdatangan ke sumber air," tutur I Wayan Phala Swara, seorang guru agama hindu di SMAN 3 Denpasar. 

       Tidak luput dari pengaruh zaman, pada upacara melasti ini juga terjadi beberapa perubahan yang menyisakan cerita tersendiri setiap tahunnya. "Kalau dulu iring-iringannya masih berjalan kaki, kalau sekarang rata-rata naik kendaraan," aku Phala. Kendati diterpa berbagai perubahan, tidak membuat nilai keagamaan dari upacara sakral ini berkurang. "Hindu sebagai agama yang fleksibel tentu tdk akan melihat perubahan itu terlalu banyak sbg pengurangan nilai melainkan hal ini bukti nyata bahwa antusias masyarakat thd identitas keagamaannya semakin baik," terang phala.

       Hal ini juga disetujui oleh intan, "kalau dulu aku bisa dengan gampang ikut di truknya, tapi kemarin gak bisa ikut di truk, karena orang yang ikut semakin banyak, jadi naik kendaan pribadi," ucapnya. Pernyataan ini membuktikan bahwa antusias masyakarat semakin tinggi untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan upacara keagagamaam, meskipun berkendara.

        Semaraknya perayaan upacara ini diikuti dengan munculnya beberapa kendala seperti yang dijelaskan oleh phala "Ya seyogyanya proses Melasti agar diberikan keleluasaan dlm hal aktif tas penggunaan jalan, karena selama ini selalu bermasalah di lalu lintas," jelasnya.

       Upacara yang sudah menjadi tradisi ini patut dilestarikan, hal ini dikarenakan fungsi dari upacara ini yang dipandang penting. "Karena ini adalah proses yg bsa menyucikan alam yang kita tempati, biar seimbang" ujar phala. Menjaga keseimbangan hubungan memang penting. Tidak saja keseimbangan hubungan antara manusia saja, namun dengan tuhan dan alam pun juga tidak kalah pentingnya. Tanpa keseimbangan, keharmonisan dan keselarasan kehidupan tidak akan terwujud. (git)

Pengunjung Lainnya

We have 72 guests and no members online