• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Tajuk

Kesehatan Reproduksi dan Seksualitas bukanlah suatu hal yang baru, namun hal tersebut masih dianggap tabu untuk dibicarakan. Karena dianggap suatu hal yang penting, maka pemerintah mengeluarkan PP No. 61 Tahun 2014 mengenai Kesehatan Reproduksi.

 

        Realita yang terjadi di masyarakat saat ini adalah saat berbicara mengenai seks dan reproduksi, seseorang dapat dianggap porno dan terkesan “vulgar”. Hal ini berarti di negara kita tingkat pengetahuan masayarakat mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas masih rendah, dan hal tersebut dapat memicu terjadinya berbagai kasus atau masalah sosial.

       Masyarakat harusnya memiliki pola pikir yang lebih terbuka mengenai pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas. Hakekatnya, pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas bertujuan untuk memberi pengetahuan yang seluas-luasnya dan memberikan informasi yang faktual kepada masayarakat mengenai reproduksi dan seksualitas sehingga masyarakat memiliki pengetahuan yang benar mengenai seksualitas. Pengertian seksualitas di kalangan masyarakat masih sangat sempit, seolah-olah hanya diartikan ke arah hubungan seks.

        Pendidikan reproduksi dan seksualitas sangat perlu diberikan kepada setiap orang, khususnya yang sedang berada dalam usia remaja. Seorang remaja cenderung mempunyai dorongan atau keinginan yang kuat mengenai perubahan-perubahan yang ada di dalam dirinya dan mulai tertarik terhadap lawan jenisnya. Hal itu tentunya perlu diwaspadai karena informasi mengenai reproduksi dan seks yang ada di media massa dan orang sekitar belum tentu disampaikan secara benar sehingga dapat menyebabkan remaja salah kaprah akan informasi yang diterima dan justru ingin mencoba untuk berhubungan seks. Dengan pengetahuan megenai kesehatan reproduksi dan seksualitas yang dimiliki oleh seorang remaja, maka diharapkan dapat memberikan pertimbangan bagi orang tersebut dalam melakukan tindakannya. Misalnya saat remaja telah mengetahui bahwa HIV itu sangat berbahaya maka ia akan menghindarinya dengan melakukan tindakan pencegahan.

         Banyak hal yang dapat dilakukan untuk menyebarkan pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas, misalnya melalui pembicaraan ringan sehari-hari, melalui sosialisasi, kurikulum mengenai pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas, ataupun melalui media massa. Penyampaian informasi tersebut harus dilakukan secara jujur, sesuai fakta, harus disesuaikan dengan kematangan usia seseorang, dan pada waktu serta tempat yang sesuai. Sebagai remaja, kita dapat berperan sebagai peer educator atau pendidik sebaya, berperan aktif dalam lembaga-lembaga yang bergerak di bidang kesehatan remaja dan dapat menjadi sumber informasi tentang remaja dan pendidikan kesehatan reproduksi. 

Pengunjung Lainnya

We have 108 guests and no members online