• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

Image and video hosting by TinyPic

“Nasib petani ya seperti caranya bekerja, mundur” ujarnya dengan sedikit terkekeh mentertawakan nasib hidupnya sendiri. Namun kesulitan tidak membuat tawa cerianya memudar.

        Begitulah ciri khasnya, selalu tersenyum dan tertawa bagaimanapun penatnya kehidupan yang ia jalani. A.A Putu Gede Wisnawa atau yang akrab disaba Wisnawa adalah seorang mantan pekerja kapal pesiar yang sekarang beralih profesi jadi bergulat dengan teriknya matahari dan juga dinginnya lumpur. “Saya bekerja sebagai petani sejak 2013, sebelumnya saya sempat bekerja di hotel dan juga di kapal pesiar,” ujar pria kelahiran Denpasar 21 April 1970 ini.

       Seperti ‘banting stir’, ia beralih dari pekerjaan yang tergolong mewah menjadi pekerja yang merakyat tidak membuatnya sulit untuk membiasakan diri. “Kerja jadi petani itu santai kapan aja boleh kerja dan pulang, tapi uangnya juga santai datengnya, alias lambat dan sedikit,” celetuknya dengan nada bercanda.

     Pekerjaan menjadi petani tidaklah mudah, menurutnya petani adalah pekerjaan yang amat mulia, walaupun sering dipandang sebelah mata dan kesejahteraannya tidak terjamin. “Petani itu pekerja keras, gak kenal waktu dan cuaca yang penting kerja. Gak ada profesi lain yang kayak petani,” ucapnya dengan senang.

       Senang belum tentu tenang. Itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan sosok ini. Ia senang melakoni pekerjaan barunya ini, namun ia juga tidak tenang karena pemasukan yang ia dapat jauh dari kata cukup. “Yah gimana saya masih punya dua anak yang harus ditanggung sedangkan penghasilan disini tidak pasti. Beratnya pekerjaan tidak sesuai dengan hasil yang didapat,” sesalnya.

        Umurnya belum terlalu tua, badan pun masih terlihat kuat dan bugar apalagi dengan potensi berbahasa inggris yang ia punya memungkinkannya untuk bekerja di tempat yang lebih menjanjikan, namun ada hal yang membuatnya memilih untuk bekerja sebagai petani. “Saya hanya mencoba untuk memanfaatkan apa yang saya punya, dan apa yang alam berikan. Saya punya tanah yang subur, dan alam memberikan air yang berlimpah, jadi kenapa enggak,” jelas pria yang hobi menonton bola ini.

       Pria yang tergabung menjadi anggota subak sembung ini mengaku sangat memperhatikan keadaan lingkungannya apalagi air. Menurutnya air adalah faktor yang paling penting dalam pertanian. “Kami di subak sembung ini setiap minggu secara bergantian bergotong royong untuk membersihkan sampah-sampah yang ada, kalau tidak airnya bisa tercemar,” katanya. Tidak jarang juga ia dan teman temannya di subak sembung dihadiri oleh dinas pertanian untuk mengecek bagaimana kualitas airnya.

       Ia dan teman teman senasib sepenanggungannya bekerja dengan suka cita, tidak hanya berfokus pada hasil, namun ada kepuasan tersendiri dihatinya melihat hamparan luas berwarna hijau ini tumbuh dan berkembang. “Subak itu organisasi luarbiasa yang dijalankan petani, dimana disinilah air dikelola sehingga lebih terjaga dan terorganisir,” ujarnya.

      Dibalik senyum dan tawacandanya tersimpan harapan besar yang tersirat dari sorot matanya. “Saya hanya berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan keseahteraan petani. Ingat kalau gak ada petani gak ada makanan,” harapnya. Begitulah ia, seorang pendekar dari daratan hijau yang selalu tersenyum dan tertawa bahkan diatas penderitaannya sendiri. (git)

Pengunjung Lainnya

We have 86 guests and no members online