• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

Media online dan media konvensional, dua hal yang sangat bertolak belakang. Keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan. Namun di balik hal itu, pilihan tetap jatuh ke tangan pembaca.

 

       Praktis dan mudah, setidaknya hal itu yang terucap dari sosok Triadhi Putra Setiawan (15) ketika ditanya mengapa lebih menyukai media online daripada media konvensional yang keberadaannya sudah ada sejak zaman dahulu. Siswa bertubuh tambun itu mengatakan bahwa penggunaan media online memang sangat tepat digunakan di masa kini. “Coba aja kalau misalnya ada peristiwa-peristiwa penting, tinggal klik di smartphone aja kita udah tau apa yang terjadi. Beda dengan media konvensional, ribet”, ujar pria tersebut pada Jumat (29/1), di SMAN 3 Denpasar.

       Tidak jauh berbeda dengan pendapat Triadhi, Jezzica Jasmine Wulandari (16) pun memiliki persepsi yang sama. “Media online itu bagus, lebih praktis, gampang diakses dimana-mana, dan lebih cepat”, ujar gadis yang akrab disapa Jeje ini. Jeje memaparkan bahwa media online dapat diandalkan untuk menyelesaikan tugas sekolah, dan refreshing sejenak dari rutinitas dengan membaca berita.

       Wirayuda Dinata (17) pun berpendapat sedemikian rupa. Menurutnya, menggunakan media online merupakan salah satu solusi untuk mendapatkan informasi bila kita sedang dikejar waktu. Tanpa adanya media online, masyarakat harus menunggu pemberitaan dari TV yang pasti perlu waktu dalam proses editing, atau menunggu koran yang biasanya terbit di kemudian hari. “Selain itu, contohnya koran, koran itu kalau selesai baca jadi sampah, tapi kalau media online, selesai baca bisa close aja tab nya”, imbuh remaja berkulit putih tersebut.

        “Tapi sayang, kalau media online terus bertumbuh, koran makin susah dicari. Contohnya waktu aku lagi perlu cari koran, susah banget dapatnya”, seru Jeje ketika ditanya mengenai dampak negatif keberadaan media online. Setali tiga uang, Triadhi juga mengungkapkan hubungan dari fenomena langkanya koran lainnya sebagai salah satu media konvensional. “Takutnya ya, media online itu bisa menghapus pekerjaan loper koran. Kan kasian bila dia harus kehilangan mata pencahariannya”, akunya. Banyak masyarakat yang menggantungkan hidupnya menjadi loper dan penjual koran. Sehingga bila pamor media online kian naik, masyarakat akan enggan berlangganan koran, dimana hal tersebut merupakan petaka bagi para ksatria penjaja berita tersebut, papar Triadhi melengkapi jawabannya.

       Media online dan media konvensional memang bertolak belakang. “Intinya media satu dengan yang lain itu sama, terserah masyarakat deh mau pilih mana”, ujar Triadhi menutup wawancara. (smy)

Pengunjung Lainnya

We have 109 guests and no members online