• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Laporan Utama

“Sebenarnya bagus, cuma sifat-sifat pengusaha itu yang tidak ketahui. Siapa tahu, setelah ini, justru makin lama bayarnya”, papar I Made Angga Putra Dwipayana (17) menggebu-gebu.

 

       Walau topik yang dibahas masih terlalu ‘tinggi’ dibandingkan topik pembicaraan teman-teman sebayanya, sosok Angga terlihat sangat bersemangat membicarakan soal kontroversi pelaksanaan tax amnesty baru-baru ini. Sebuah kebijakan yang memberikan kesempatan bagi para Wajib Pajak (WP) untuk mendapatkan ‘pengampunan’ dari tunggakan pajak selama 5 (lima) tahun ke belakang. Disertai dengan penghapusan sanksi dan keringanan ‘angka’ yang mesti dibayarkan.

      “Sebenarnya, benar ini adalah bentuk keputusasaan pemerintah menindaki pengusaha-pengusaha ‘bandel’ itu,” ungkap Angga kala diwawancarai pada Kamis (1/9) di SMAN 3 Denpasar. Baginya, langkah penerapan tax amnesty bak menuang garam ke dalam laut. Sia-sia saja. Apabila, tidak dibarengi dengan kesadaran masing-masing wajib pajak. “Ya, kalau sekarang aja dia mau bayar kecil. Tapi nanti dia gak akan bayar lagi, kan sama saja?” Belum lagi soal target yang ‘dipasang’ oleh pemerintah selama pemberlakuan keputusan ini, 1 Juli 2016 – 31 Maret 2017, yaitu sebesar 167 triliun. Di mana dilansir pada berita laman http://www.bbc.com tiga hari saja, program ini hanya dapat menghasilkan 8 miliar rupiah.

       Namun, bila melirik tujuan utama pemerintah menetapkan keputusan ini, untuk ‘menggiring’ kembali dana yang sebelumnya ‘disembunyikan’, menurut Ni Putu Pradnya Widyasari (16) adalah tindakan yang ‘pas’. “Menurutku, hal ini dilakukan untuk ‘menutupi’ dana-dana yang hilang sebelumnya gitu. Ya, kan lebih baik bergerak sekarang sebelum terlambat”, ujarnya.

       Berkaca pada kegagalan amnesti pajak yang berlaku di Indonesia beberapa dekade lalu, Pradnya memutuskan untuk bersikap tenang saja. “Ya, dulu kan karena sistem dan orang-orangnya gak siap,” pungkasnya. Otomatis, sekarang perbaikan-perbaikan mesti dilakukan agar pemerintah tak ‘jatuh’ ke ‘lubang’ yang sama.

       “Ini cuma soal optimisme ke masyarakat aja. Yakin bahwa nanti targetnya bisa terkumpul,” ucap Pradnya. Dirinya menambahkan bahwa pemberlakuan tax amnesty adalah start yang bagus untuk ‘bertarung’, agar nantinya dapat memberikan efek yang baik terhadap keuangan negara. Seperti yang dilansir pada laman http://www.bbc.com, bahwa keuntungan dari amnesti pajak ini dapat membantu APBN lebih sustainable dan kemampuan pemerintah untuk spending atau untuk belanja juga semakin besar.

       “Supaya jangan pengusaha takut pajak,” kata Pradnya merendah. Sepertinya Pradnya sangat memahami maksud ‘terselubung’ pemerintah terkait pengambilan tindakan ini. “Ya, slow but sure. Supaya gak stuck di satu titik aja.” Sekarang tinggal soal masyarakat dan pemerintah. Pilih optimis atau realistis? (smy)

Pengunjung Lainnya

We have 108 guests and no members online