• This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.
  • +6285-739880-014
Category: Profil

“Pasti akan ada manfaatnya, gak mungkin orang tua ngasih tau yang jelek,” ujar gadis itu dengan senyum manisnya, saat menceritakan kisahnya pada Selasa (7/03).

 

       Gadis kelahiran Denpasar, 16 Desember 1999 ini adalah salah satu anak dari beberapa orang yang dianugrahi kecerdasan akademik. Ida Ayu Sutha Maharani, atau yang kerap disapa Gek Ani mengaku sangat menyukai kimia. “Kimia itu menarik, seru kalau kita mau nyoba deketin dia,” seru Gek Ani dengan antusias.

      Tidak seperti kebanyakan orang yang menganggap kimia itu sulit, Gek Ani malah memiliki pemikiran yang berbeda, “Ngertiin kimia itu lebih gampang dari ngertiin pacar tau hehe,” ucapnya sembari terkekeh kecil. Dalam menemukan jati dirinya, ternyata terdapat cerita yang menarik untuk diulas.

      Gadis yang memiliki kembaran cowok ini ternyata sebelum mendalami kimia, ia sempat mencoba untuk mendalami matematika. “Waktu SD kembaran ku itu udah ikut olimpiade matematika gitu, jadi orang tua ku nyuruh aku ngikut juga,”. Namun selama mencoba untuk memahami matematika, ia mengaku kurang ‘srek’. Alhasil orang tuanya menyarankan ia untuk beralih ke IPA, “Waktu itu aku ke gramed, dibeliin buku IPA gitu 3 series yang harganya 900 rb,” ceritanya dengan antusias. Namun belum habis satu buku yang ia baca, gadis penyuka warna biru ini sudah merasa bosan dengan pelajaran tersebut.

      Orang tua Gek Ani tidak habis akal, pada awal memasuki Sekolah Menengah Pertama, orang tuanya kembali memacu semangat Gek Ani untuk ikut lomba olimpiade, kali ini pilihannya jatuh pada bidang kebumian. “Dan itu aku sama sekali nggak tertarik, disuruh menghafal ini itu, aku gak bisa huhu,” terangnya.

        Setelah mencoba berbagai macam objek, akhirnya orang tuanya mempertemukan Gek Ani dengan seorang dosen kimia, yang tidak lain adalah neneknya sendiri. “Awalnya dikasih gambaran kimia itu gimana, sebenarnya gak ngerti sih tapi yaudah coba aja dulu,” ucapnya. Berlanjut dengan ia diberi buku kimia yang pelajarannya setara dengan anak kuliahan, Gek Anipun akhirnya dicarikan guru les. Dari sanalah hubungannya dengan kimia mulai tumbuh.

        Setelah mengarungi perjalanan panjang untuk menemukan Kimia-nya, tantangannya tidak berhenti sampai disana. Alumni SMPN 3 Denpasar ini mengaku saat SMP kerap mengikuti olimpiade-olimpiade di berbagai universitas, namun dewi fortuna rupanya tidak berpihak padanya. “Sempat sedih sih karna ngecewain orang tua, padahal udah didukung sebegitunya tapi masih belum bisa ngasilin apa-apa. Namun, seperti orangtuanya, Gek Anipun tidak menyerah, yang ia lakukan adalah terus belajar dan belajar. “Rasa jenuh sempat ada, tapi gak berselang lama, aku selalu tertarik untuk ngerjain lagi dan lagi soal yang ada, itu seperti tantangan buat aku,” ucapnya.

        “Aku selalu percaya, setiap apa yang kita kerjakan nantinya pasti akan membuahkan hasil,” ucapnya dengan raut wajah yang serius. Benar saja, diakhir masa sekolahnya di jenjang SMP, Gek Ani berhasil memborong satu piala untuk diberikan ke sekolah tercintanya. Perasaannya pada saat itu bercampur menjadi satu, antara haru, kaget senang dan bangga. “Dan ternyata pas namaku dipanggil, ajik ku ada di tempat lombanya itu. Seneng banget akhirnya bisa bikin beliau bangga hehe,” tuturnya sambil berseri-seri.

         Semenjak kejadian itu, Gek Ani rupanya menjadi lebih yakin dengan dirinya, dan mulai serius dengan kima-nya. “Aku jadi makin suka kimia makanya di SMA ini aku lebih menekuni kimia lagi,” akunya. Kini Gek Ani tengah mempersiapkan dirinya untuk mengikuti OSN Kimia mewakili seolahnya. “Berkomitmen itu memang penting, tidak cuma dengan pacar, tapi dengan hal-hal yang akan kita seriusi,” jelasnya diakhir wawancara. Tidak ada kata lelah dan bosan untuk menggapai mimpi-mimpi, seperti kisah Gek Ani ini. Kerja keras dan kegigihan adalah alasan keberhasilan itu ada. (git)

Pengunjung Lainnya

We have 84 guests and no members online